Garuda Return to Service: Strategi Maskapai untuk Kembali Terbang di 2026

to

Garuda return to service menjadi prioritas utama Danantara pada 2026. Puluhan pesawat yang grounded sejak pandemi Covid-19 akan kembali beroperasi, dorong kinerja dan pendapatan maskapai.

TradeSphereFx  – Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, banyak sektor industri terdampak, termasuk penerbangan. Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink Indonesia, mengalami grounded atau penghentian sementara sebagian besar armadanya. Keputusan ini memang penting untuk menyesuaikan kapasitas penerbangan dengan turunnya permintaan global, namun konsekuensinya sangat signifikan bagi keuangan perusahaan.

Grounded menyebabkan beberapa masalah serius, antara lain penurunan pendapatan kotor maskapai, meningkatnya biaya sewa pesawat, dan menurunnya efisiensi operasional. Dampak ini membuat pemulihan menjadi prioritas utama bagi manajemen Garuda dan pemegang sahamnya.

Menurut Febriany Eddy, Managing Director BPI Daya Anagata Nusantara (Danantara), prioritas utama ke depan adalah memastikan semua pesawat dapat kembali beroperasi. “Semua pesawat harus kembali ke layanan atau Garuda return to service. Semakin lama proses ini ditunda, semakin besar kerugian yang harus ditanggung maskapai,” ujar Febriany.

Latar Belakang Grounded Pesawat Garuda

Grounded bukan keputusan yang diambil ringan. Selama pandemi, permintaan penerbangan menurun drastis, baik untuk perjalanan domestik maupun internasional. Maskapai di seluruh dunia melakukan penyesuaian serupa, dengan menahan sebagian besar armadanya di darat.

Bagi Garuda, keputusan ini membawa dampak langsung pada pendapatan. Maskapai kehilangan sumber pendapatan utama dari penjualan tiket, sekaligus harus menanggung biaya tetap seperti sewa pesawat dan perawatan minimal untuk memastikan armada tetap aman saat tidak digunakan. Grounded juga mempengaruhi operasional internal, mulai dari penjadwalan kru hingga manajemen logistik dan bahan bakar.

Dampak finansial ini menjadi salah satu alasan utama BPI Danantara menekankan rencana Garuda return to service sebagai prioritas strategis.

Prioritas Danantara dalam Return to Service

BPI Daya Anagata Nusantara (Danantara) telah menargetkan agar puluhan pesawat Garuda dapat kembali beroperasi pada 2026. Strategi ini bukan hanya untuk memulihkan armada, tetapi juga untuk mengembalikan posisi maskapai di pasar domestik dan regional.

Langkah-langkah prioritas yang dilakukan meliputi:

  1. Pemulihan Pesawat Grounded: Proses maintenance, repair, dan overhaul (MRO) menjadi langkah utama agar semua pesawat aman dan siap terbang.
  2. Alokasi Modal: Suntikan modal dari private placement sebesar Rp23,67 triliun digunakan untuk mendukung biaya operasional, MRO, dan pemulihan armada.
  3. Slot MRO Global: Dengan banyaknya pesawat yang membutuhkan perawatan, Danantara harus bersaing secara global untuk mendapatkan slot MRO.

Febriany menyebutkan bahwa langkah-langkah ini penting, karena tanpa Garuda return to service, kerugian maskapai akan terus meningkat.

Fokus Utama: Citilink Indonesia

Sebagian besar pesawat yang grounded berasal dari Citilink Indonesia, anak perusahaan Garuda yang fokus pada segmen low-cost carrier. Pengembalian pesawat ini akan membawa sejumlah manfaat penting:

  • Kapasitas penerbangan meningkat: Jumlah penerbangan yang bisa dijalankan kembali akan lebih tinggi, menyesuaikan dengan permintaan pasar.
  • Pendapatan maskapai terdongkrak: Lebih banyak penerbangan berarti potensi pendapatan yang kembali naik.
  • Penguatan posisi pasar: Citilink akan kembali mengukuhkan posisi sebagai pemain utama di segmen low-cost carrier domestik.

Dengan mengutamakan Citilink, Garuda juga menyiapkan strategi untuk memastikan seluruh armadanya siap menghadapi persaingan di pasar penerbangan domestik maupun regional.

Tantangan dan Hambatan Kembali Terbang

Meskipun ada dukungan modal, return to service bukan proses yang mudah. Beberapa hambatan utama yang dihadapi antara lain:

  1. Keterbatasan fasilitas MRO: Bengkel pesawat di seluruh dunia terbatas, dan banyak maskapai berebut slot yang sama untuk memulihkan armadanya.
  2. Koordinasi Jadwal Operasional: Penjadwalan ulang pesawat agar semua kembali beroperasi memerlukan koordinasi yang rumit antara manajemen, kru, dan otoritas penerbangan.
  3. Kesiapan Kru dan Regulasi: Pilot, awak kabin, dan sertifikasi pesawat harus diperbarui untuk memenuhi standar keselamatan internasional setelah masa grounded.

Menurut Febriany, “Kalau uang sudah ada, tantangannya adalah mendapatkan slot MRO secara global agar pesawat bisa kembali terbang sesuai jadwal.”

Dampak Ekonomi dan Strategi Pemulihan

Kembalinya pesawat Garuda ke layanan penuh akan membawa dampak positif luas:

  • Pendapatan Maskapai: Lebih banyak penerbangan berarti peningkatan pendapatan dan profitabilitas.
  • Industri Penerbangan Nasional: Mengurangi ketergantungan pada maskapai asing dan memperkuat posisi Indonesia sebagai hub penerbangan regional.
  • Ekonomi Nasional: Pemulihan penerbangan mendukung sektor pariwisata, logistik, dan perdagangan.

Selain itu, Danantara mengadopsi strategi jangka panjang, termasuk digitalisasi operasional, efisiensi biaya, dan pengelolaan armada yang lebih baik, untuk memastikan pemulihan maskapai berkelanjutan.

Garuda return to service bukan hanya soal angka pesawat kembali beroperasi, tetapi simbol pemulihan industri penerbangan nasional pasca-pandemi. Dengan dukungan modal dari Danantara, prioritas yang jelas, dan strategi jangka panjang, Garuda Indonesia diperkirakan dapat kembali beroperasi penuh pada 2026, mengembalikan pendapatan, kapasitas penerbangan, dan kepercayaan publik.

Kembalinya puluhan pesawat Garuda juga menjadi tanda bahwa industri penerbangan Indonesia mampu bangkit dari dampak pandemi, siap bersaing di pasar global, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

One thought on “Garuda Return to Service: Strategi Maskapai untuk Kembali Terbang di 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *