HSBC Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan, Dua Perusahaan Raih Fasilitas Rp 600 M

hsbc

HSBC Indonesia menyalurkan pembiayaan berkelanjutan perdana melalui HSBC Sustainability Improvement Loan (SIL) kepada PT Bambang Djaja dan PT Bahtera Adi Jaya untuk mendukung praktik bisnis ramah lingkungan dan efisiensi rantai pasok.

TradeSphereFx – PT Bank HSBC Indonesia (HSBC Indonesia) memperluas portofolio pembiayaan berkelanjutan melalui peluncuran HSBC Sustainability Improvement Loan (SIL). Dalam tahap perdananya, bank asal Inggris tersebut menyalurkan kredit kepada dua perusahaan nasional berskala menengah, yaitu PT Bambang Djaja (BD) dan PT Bahtera Adi Jaya (Bahtera).

Langkah ini menandai komitmen nyata HSBC dalam memperkuat dukungan terhadap industri nasional yang sedang bertransformasi menuju praktik bisnis berkelanjutan, sejalan dengan agenda global menuju ekonomi rendah karbon. Melalui SIL, HSBC ingin menjembatani kesenjangan antara kebutuhan pembiayaan usaha menengah dengan tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini menjadi standar internasional.

Dua Perusahaan Pertama Penerima SIL

Kedua perusahaan penerima pembiayaan memiliki peran strategis di sektor industri Indonesia. PT Bambang Djaja, produsen trafo daya dan instrumen distribusi listrik, berperan penting dalam penyediaan infrastruktur energi dan kelistrikan nasional. Sedangkan PT Bahtera Adi Jaya merupakan distributor bahan kimia khusus yang melayani berbagai sektor industri, termasuk manufaktur, makanan dan minuman, serta energi.

Dana pembiayaan dari program SIL akan digunakan sebagai modal kerja untuk memperkuat operasional dan memperluas kapasitas bisnis. Kedua perusahaan juga berupaya memenuhi tuntutan para klien multinasional yang kini menekankan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan global di seluruh rantai pasok mereka.

“Tujuan HSBC adalah mendukung bisnis agar dapat berkembang secara bertanggung jawab dan menavigasi kompleksitas transisi menuju ekonomi rendah karbon, sembari mengambil langkah awal yang berarti dalam mewujudkan ambisi keberlanjutan mereka,” ujar Steve Andoko, Banking Director Corporate and Institutional Banking HSBC Indonesia (dalam proses persetujuan OJK), dalam keterangannya, Rabu (12/11/2025).

Pembiayaan Berbasis Peningkatan Kinerja ESG

HSBC Sustainability Improvement Loan dirancang secara khusus untuk membantu pelaku usaha menengah dan UMKM yang baru memulai perjalanan keberlanjutan mereka. Berbeda dari skema pinjaman konvensional, SIL menghubungkan margin bunga pinjaman dengan kinerja keberlanjutan (ESG performance) perusahaan.

Dalam implementasinya, HSBC menggandeng EcoVadis, lembaga pemeringkat keberlanjutan global yang telah melakukan lebih dari 150.000 penilaian ESG di berbagai sektor dan negara. Sistem penilaian ini mencakup aspek lingkungan, tenaga kerja dan hak asasi manusia, etika bisnis, serta keberlanjutan rantai pasok.

Perusahaan yang berhasil meningkatkan skor ESG-nya akan memperoleh penurunan suku bunga pinjaman, sementara penurunan kinerja dapat memicu kenaikan tingkat bunga. Skema ini memberikan insentif nyata bagi perusahaan untuk terus memperbaiki praktik keberlanjutan mereka secara berkelanjutan.

Dengan struktur semacam ini, HSBC tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga menciptakan mekanisme yang mendorong perubahan perilaku korporasi menuju praktik bisnis yang lebih hijau dan bertanggung jawab.

Menjawab Tantangan Akses Pembiayaan ESG

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan multinasional semakin ketat dalam menilai standar keberlanjutan mitra rantai pasok mereka. Banyak yang kini mewajibkan pemasok untuk memenuhi kriteria ESG global, terutama di sektor seperti manufaktur, agribisnis, dan energi.

Namun, masih banyak perusahaan menengah di Indonesia yang menghadapi kesulitan dalam mengakses Sustainability-Linked Loans (SLL). Kendala utama berasal dari keterbatasan sumber daya untuk mengukur, memantau, dan melaporkan kinerja ESG secara sistematis.

Melalui program SIL, HSBC berupaya menjembatani kesenjangan ini. Penilaian dari EcoVadis tidak hanya memberikan tolok ukur objektif terhadap performa keberlanjutan, tetapi juga membantu perusahaan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Hasil pemeringkatan tersebut dapat digunakan sebagai referensi dalam membangun kredibilitas di mata mitra global dan lembaga keuangan.

“Kami melihat banyak perusahaan menengah di Indonesia yang sudah berkomitmen terhadap praktik hijau, tetapi belum memiliki akses ke pembiayaan berkelanjutan. SIL hadir sebagai solusi inklusif bagi mereka,” kata Steve menambahkan.

Komitmen Global HSBC terhadap Transisi Hijau

Peluncuran SIL di Indonesia merupakan bagian dari strategi global HSBC yang menargetkan penyaluran pendanaan hingga US$1 triliun untuk proyek hijau dan berkelanjutan hingga tahun 2030. Di Tanah Air, HSBC telah aktif membiayai proyek transisi energi, seperti energi terbarukan, efisiensi energi, dan green building.

SIL menjadi langkah lanjutan yang lebih inklusif karena menyasar pelaku usaha menengah, segmen yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau program pembiayaan hijau konvensional. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas basis partisipasi dunia usaha Indonesia dalam mendukung agenda keberlanjutan global.

Selain pembiayaan, HSBC juga memberikan pendampingan teknis dan edukasi terkait penerapan ESG. Melalui program edukatif dan konsultatif, nasabah korporasi diarahkan untuk memahami standar internasional serta menyiapkan laporan keberlanjutan sesuai ketentuan global, seperti Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD) dan Global Reporting Initiative (GRI).

Dampak terhadap Industri Nasional

Bagi PT Bambang Djaja dan PT Bahtera Adi Jaya, fasilitas SIL menjadi peluang strategis untuk memperkuat daya saing dan reputasi di pasar internasional. Dukungan pembiayaan berbasis ESG memungkinkan mereka untuk berinvestasi dalam teknologi efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan pengurangan emisi karbon, yang kini menjadi perhatian utama klien global.

Skema ini juga diyakini akan mendorong lebih banyak perusahaan menengah di Indonesia untuk mulai mengadopsi standar ESG, terutama karena insentif finansial yang ditawarkan. Dengan meningkatnya jumlah pelaku usaha yang berpartisipasi dalam pembiayaan hijau, dampak transformasi menuju ekonomi rendah karbon diharapkan menjadi semakin luas.

Langkah HSBC memperkuat peran Indonesia dalam peta keberlanjutan regional Asia Pasifik. Negara ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan hijau di kawasan, mengingat kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan sumber daya alam yang melimpah.

Melalui peluncuran HSBC Sustainability Improvement Loan, HSBC Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung transformasi dunia usaha menuju ekonomi rendah karbon. Dengan mengaitkan performa ESG terhadap margin bunga, bank memberikan insentif konkret bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerja lingkungan dan sosial mereka.

Dukungan terhadap PT Bambang Djaja dan PT Bahtera Adi Jaya menjadi contoh awal sinergi antara sektor keuangan dan industri dalam mempercepat implementasi prinsip keberlanjutan. Program ini tidak hanya memperkuat daya saing bisnis nasional, tetapi juga menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan kini dapat berjalan beriringan.

One thought on “HSBC Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan, Dua Perusahaan Raih Fasilitas Rp 600 M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *