IFSH siapkan pendanaan Rp92 miliar bagi dua entitas untuk memperkuat modal kerja usaha patungan
TradeSphereFx – PT Ifishdeco Tbk (IFSH), emiten tambang nikel yang berbasis di Sulawesi Tenggara, kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat struktur bisnis hilir dan hulu melalui aksi korporasi berupa transaksi afiliasi. Perseroan resmi mengucurkan total pinjaman sebesar Rp92 miliar kepada dua anak usahanya. Dana tersebut kemudian diteruskan untuk mendukung kebutuhan modal kerja sejumlah entitas usaha patungan (joint venture) yang sedang dipersiapkan untuk memasuki fase operasional penuh.
Langkah strategis ini mencerminkan upaya IFSH dalam memastikan keberlanjutan operasional, kesiapan produksi, serta memperkuat rantai pasok pasca meningkatnya kebutuhan bijih nikel untuk industri pengolahan dan baterai kendaraan listrik (EV).
Latar Belakang Aksi Korporasi IFSH
Sebagai salah satu pemain penting dalam industri nikel nasional, IFSH terus memperluas jangkauan bisnis melalui pembentukan usaha patungan. JV tersebut tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang sinergi dengan mitra strategis.
Untuk mencapai tujuan tersebut, IFSH membutuhkan struktur pendanaan yang kuat, terutama pada tahap awal operasional JV yang biasanya membutuhkan modal kerja untuk aktivitas penambangan, logistik, hingga pemasaran.
Karena itulah, perseroan memutuskan untuk mengoptimalkan peran anak usaha sebagai saluran pendanaan melalui mekanisme pinjaman internal.
Pinjaman Rp22 Miliar kepada Ifishdeco Jaya Makmur
Dialokasikan untuk Modal Kerja PT Lingke Sulawesi Mineral
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), IFSH mengumumkan penandatanganan perjanjian pinjaman pada 25 November 2025 dengan anak usaha pertamanya, PT Ifishdeco Jaya Makmur. Melalui perjanjian tersebut, IFSH memberikan fasilitas pinjaman sebesar Rp22 miliar.
Pinjaman ini digunakan untuk mendukung keperluan modal kerja PT Lingke Sulawesi Mineral, sebuah perusahaan patungan di mana IFSH memiliki porsi kepemilikan. Dana tersebut disalurkan kepada Lingke Sulawesi Mineral melalui perjanjian terpisah antara entitas tersebut dan Ifishdeco Jaya Makmur.
Modal kerja yang dimaksud mencakup berbagai kebutuhan operasional, seperti pembelian peralatan penunjang produksi, pembiayaan awal kegiatan penambangan, biaya logistik, serta operasional administratif untuk memperlancar proses produksi bijih nikel sebelum sepenuhnya beroperasi.
Pinjaman Rp70 Miliar kepada Ifishdeco Mineral Lestari
Diteruskan untuk Modal Kerja PT Sulawesi Damai Mineral
Selain itu, IFSH juga melakukan perjanjian pinjaman kedua dengan anak usaha lainnya, PT Ifishdeco Mineral Lestari, senilai Rp70 miliar. Dana ini akan diteruskan untuk mendukung modal kerja PT Sulawesi Damai Mineral, JV lain di bawah struktur bisnis IFSH.
Penyaluran pinjaman dilakukan melalui mekanisme yang sama, yakni perjanjian pinjaman terpisah antara Sulawesi Damai Mineral dan Ifishdeco Mineral Lestari. Modal kerja tersebut dibutuhkan untuk mempersiapkan operasional awal, termasuk kegiatan eksplorasi lanjutan, peningkatan fasilitas tambang, penyediaan armada angkut, hingga penyusunan struktur logistik yang efisien.
Dengan struktur pendanaan internal seperti ini, IFSH memastikan seluruh entitas di bawah naungannya memiliki dukungan finansial yang cukup untuk memasuki tahap produksi tanpa hambatan.
Tidak Ada Dampak Material Terhadap Keuangan Perseroan
Dalam pernyataannya, manajemen IFSH menjelaskan bahwa transaksi pinjaman ini merupakan bagian dari strategi internal perusahaan dan tidak menimbulkan risiko material terhadap operasional maupun kondisi keuangan.
“Tidak terdapat dampak yang material yang merugikan terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perusahaan atas transaksi tersebut,” tulis manajemen IFSH dalam keterbukaan informasi, Rabu (26/11).
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan IFSH masih berada dalam posisi stabil, sehingga perseroan memiliki kapasitas memadai untuk memberikan dukungan pendanaan kepada anak usaha dan JV-nya.
Pendekatan pendanaan internal juga dinilai lebih efisien dibandingkan alternatif pembiayaan eksternal, karena menghindari biaya bunga tinggi dan mempercepat proses persetujuan.
Potensi Pelunasan dari Penjualan Bijih Nikel
IFSH menyebut bahwa pelunasan pinjaman akan dilakukan oleh masing-masing JV, yakni Lingke Sulawesi Mineral dan Sulawesi Damai Mineral, setelah entitas tersebut mulai memasuki fase produksi komersial.
Pelunasan akan mengandalkan arus kas dari penjualan bijih nikel, yang diperkirakan meningkat seiring membaiknya aktivitas tambang dan stabilnya permintaan pasar, terutama dari industri smelter domestik dan sektor bahan baku baterai.
Dengan memastikan pendanaan sejak awal, IFSH menargetkan proses operasional JV dapat berjalan lebih cepat dan lebih optimal, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasi dapat terealisasi dalam jangka menengah.
Penguatan Rantai Pasok dan Efisiensi Operasional
Pemberian pinjaman ini juga menjadi bagian dari rencana besar perusahaan untuk memperkuat rantai pasok dalam bisnis nikel. Dengan semakin banyaknya JV yang memasuki fase produksi, IFSH dapat:
- meningkatkan volume produksi bijih nikel,
- memperluas jaringan suplai ke mitra smelter,
- menambah stabilitas pasokan untuk industri hilir,
- sekaligus memperkuat posisi tawar perusahaan dalam ekosistem pertambangan nasional.
Selain itu, investasi internal melalui anak usaha dinilai lebih efisien karena meminimalkan risiko ketergantungan pada pendanaan eksternal dan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi manajemen dalam mengendalikan arus kas grup.
Strategi Pendanaan untuk Pertumbuhan Jangka Panjang
Dengan total pinjaman Rp92 miliar, IFSH menegaskan komitmennya dalam mempercepat perkembangan dua usaha patungan yang diproyeksikan menjadi penyumbang pendapatan baru bagi grup di tahun-tahun mendatang. Pendanaan ini tidak hanya memperkuat kesiapan operasional JV, tetapi juga meningkatkan kemampuan IFSH untuk memperluas kapasitas produksi nikel secara berkelanjutan.
Melalui strategi yang terukur dan minim risiko, IFSH memperlihatkan arah pengembangan bisnis yang jelas, solid, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.