IHSG dibuka menguat 0,26% ke level 9.098 dengan transaksi Rp543,79 miliar saat investor menanti keputusan BI Rate di tengah ketidakpastian global dari AS, China, dan Jepang.
TradeSphereFx – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan sesi pertama dengan penguatan tipis namun konsisten. Pada pembukaan pasar, indeks naik 23,29 poin atau 0,26 persen ke level 9.098,70. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pelaku pasar domestik masih relatif terjaga meski dibayangi berbagai ketidakpastian global.
Aktivitas perdagangan cukup ramai dengan total nilai transaksi mencapai Rp543,79 miliar. Sebanyak 718,13 juta saham berpindah tangan dalam 89.618 kali transaksi. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, 293 saham mencatat kenaikan, 65 saham terkoreksi, dan sisanya belum menunjukkan pergerakan berarti. Kondisi ini mencerminkan dominasi sentimen positif meski belum terlalu kuat.
Kapitalisasi pasar turut terdorong naik mendekati nilai yang setara dengan US$1 triliun. Angka ini menegaskan bahwa pasar modal Indonesia masih memiliki daya tarik yang signifikan di mata investor, baik domestik maupun asing, meskipun lingkungan global sedang penuh tantangan.
Pekan Krusial bagi Arah Pasar
Pekan ini dipandang sebagai periode yang sangat menentukan bagi arah pergerakan pasar keuangan, baik global maupun domestik. Investor dihadapkan pada rangkaian rilis data ekonomi penting yang berpotensi menggerakkan pasar secara signifikan.
Sorotan utama datang dari tiga kekuatan ekonomi besar dunia, yakni Amerika Serikat, China, dan Jepang. Data ekonomi dari ketiga negara ini akan menjadi acuan bagi investor dalam menilai prospek pertumbuhan global dan arah kebijakan moneter ke depan.
Di dalam negeri, fokus pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Bank sentral diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen. Langkah ini dinilai sebagai sikap kehati-hatian di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
Dilema Kebijakan Bank Indonesia
Bank Indonesia berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, inflasi domestik relatif terkendali di kisaran 2,92 persen, memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, di sisi lain, tekanan eksternal masih cukup kuat.
Penguatan dolar AS dan ketahanan ekonomi Amerika Serikat membuat banyak negara berkembang harus berhati-hati dalam memangkas suku bunga. Jika BI terlalu cepat menurunkan bunga, rupiah berpotensi mengalami depresiasi tajam, terlebih saat ini nilai tukar rupiah berada di level psikologis di atas Rp17.000 per dolar AS.
Selisih suku bunga dengan The Federal Reserve juga menjadi pertimbangan penting. Bank Indonesia perlu menjaga daya tarik aset keuangan rupiah agar tetap diminati investor asing dan mencegah arus keluar modal yang berlebihan.
Divergensi Ekonomi Global Semakin Tajam
Pasar saat ini tengah menghadapi fenomena divergensi ekonomi global yang semakin jelas. Amerika Serikat menunjukkan ketahanan ekonomi yang cukup mengejutkan, didukung oleh konsumsi domestik yang kuat dan pasar tenaga kerja yang solid.
Sebaliknya, China masih bergulat dengan perlambatan struktural, terutama di sektor properti dan manufaktur. Perlambatan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap permintaan global, termasuk bagi negara-negara pengekspor seperti Indonesia.
Sementara itu, Jepang mulai beranjak dari era suku bunga rendah yang telah berlangsung lama. Perubahan kebijakan ini berpotensi mengubah aliran modal global dan memengaruhi pasar keuangan di kawasan Asia-Pasifik.
Indonesia sendiri memilih pendekatan pragmatis dengan fokus menjaga stabilitas makroekonomi, menjaga nilai tukar, serta memastikan pertumbuhan tetap berkelanjutan.
Sentimen Asia-Pasifik Cenderung Melemah
Di luar Indonesia, mayoritas pasar Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan awal pekan. Ketidakpastian geopolitik kembali menjadi faktor penekan, terutama terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa mengenai wilayah Greenland.
Pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat dan para pemimpin Eropa menambah kecemasan pasar. Ancaman tarif terhadap beberapa negara Eropa serta tuntutan penguasaan Greenland memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan politik dan ekonomi.
Di Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng mengindikasikan potensi pelemahan lebih lanjut. Sementara itu, di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,85 persen, menjadikannya salah satu pasar dengan kinerja terburuk di kawasan. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun juga melonjak ke level tertinggi sejak 1999.
Korea Selatan menjadi pengecualian, dengan indeks Kospi menguat tipis 0,18 persen meskipun indeks Kosdaq terkoreksi. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 dibuka melemah sejalan dengan sentimen global yang masih diliputi ketidakpastian.
Prospek IHSG ke Depan
Pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh hasil RDG Bank Indonesia serta rilis data ekonomi global. Jika BI mempertahankan suku bunga dan sentimen global membaik, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan.
Namun, jika ketegangan geopolitik meningkat atau data ekonomi global mengecewakan, tekanan jual bisa kembali muncul. Oleh karena itu, investor disarankan tetap berhati-hati dan mempertimbangkan faktor risiko dalam pengambilan keputusan investasi.
Penguatan IHSG pada sesi pertama menunjukkan bahwa pasar domestik masih memiliki ketahanan meski dibayangi berbagai risiko global. Keputusan kebijakan Bank Indonesia dan perkembangan ekonomi internasional akan menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka pendek. Stabilitas dan kehati-hatian tetap menjadi kunci bagi investor di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian.