IHSG melemah 0,56% akibat net sell asing Rp1,5 triliun. Sektor industrial menguat, CASA dan BUMI masuk top movers. Simak update lengkapnya di sini.
TradeSphereFx – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami koreksi pada perdagangan Selasa (25/11). IHSG ditutup melemah 0,56% ke level 8.521,89, menunjukkan bahwa volatilitas pasar domestik masih tinggi dan tekanan terhadap saham berkapitalisasi besar belum mereda. Pelemahan ini sejalan dengan sentimen global yang masih rentan serta respons investor terhadap berbagai rilis data ekonomi dan dinamika pasar regional.
Di sisi lain, sejumlah saham top movers justru mencatatkan penguatan signifikan meski IHSG bergerak melemah. Saham CASA melesat 12,96%, didorong oleh peningkatan aktivitas perdagangan serta optimisme terhadap kinerja emiten. DSSA juga naik 1,42%, sedangkan BUMI menguat 8,26% setelah investor kembali memburu saham berbasis komoditas tertentu. Namun, tekanan besar pada saham big caps seperti perbankan dan komoditas menjadi faktor utama yang menyeret indeks turun lebih dalam. Kondisi ini membuat performa harian IHSG menjadi campuran antara penguatan di beberapa saham menengah dan tekanan pada saham unggulan.
IHSG Tertekan oleh Aksi Jual Asing
Salah satu pendorong utama pelemahan IHSG adalah aksi jual investor asing. Pada perdagangan Selasa, investor asing mencatat net sell sebesar Rp1,50 triliun di pasar reguler, serta total net sell Rp308,05 miliar di seluruh pasar. Tekanan jual ini memperburuk sentimen pasar, terutama karena terjadi di tengah fase ketidakpastian global. Selain itu, aksi jual asing dalam jumlah besar sering kali mencerminkan kehati-hatian terhadap prospek ekonomi regional maupun domestik.
Dari total 11 sektor yang diperdagangkan, lima sektor ditutup melemah. Sektor properti mengalami penurunan terdalam, yaitu 0,94%, dipicu oleh kekhawatiran mengenai perlambatan permintaan serta tekanan suku bunga global. Sektor finansial juga ikut melemah akibat penurunan saham big banks seperti BBRI yang mengalami koreksi cukup tajam.
Di tengah pelemahan tersebut, sektor industrial justru mencatat penguatan tertinggi mencapai 3,10%. Penguatan sektor ini menunjukkan bahwa investor masih melihat peluang pertumbuhan di beberapa industri pengolahan dan manufaktur, terutama yang mendapatkan sentimen positif dari perluasan kapasitas maupun kerja sama strategis.
Berita Emiten Terkini yang Mempengaruhi IHSG
Pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh perkembangan terbaru dari beberapa emiten besar. Informasi korporasi ini menjadi katalis penting bagi sentimen sektor terkait maupun indeks secara keseluruhan.
IMPC — Pengembangan Proyek WTE Berpotensi Mendorong IHSG Sektor Industri
Impack Pratama Industri (IMPC) kembali melakukan langkah strategis melalui anak usaha Sirkular Karya Indonesia (SKI). Perusahaan resmi menandatangani nota kesepahaman dengan CCEPC Indonesia untuk mengembangkan proyek waste-to-energy (WTE) di Bali. Proyek ini tidak hanya memperluas portofolio bisnis IMPC, tetapi juga menguatkan kontribusi perusahaan terhadap sektor energi terbarukan—sebuah area yang semakin diminati pasar.
Dalam struktur kerja samanya, SKI akan berperan sebagai penyedia investasi. Sementara itu, CCEPC memberikan dukungan operasional menyeluruh, mulai dari peran sebagai kontraktor EPC, layanan operasi dan pemeliharaan (O&M), hingga penyusunan feasibility study. Inisiatif ini dinilai dapat memperkuat posisi IMPC dalam industri hijau, serta berpotensi memberi dampak positif pada pergerakan IHSG sektor industri jika proyek berjalan sesuai rencana.
Proyek WTE juga membawa sentimen positif bagi investor yang mencari eksposur pada perusahaan yang aktif dalam pengelolaan lingkungan dan energi berkelanjutan. Dengan kebutuhan energi terbarukan yang meningkat, IMPC berpotensi menjadi salah satu emiten yang semakin diperhatikan pasar dalam beberapa kuartal mendatang.
RLCO IPO — Potensi Pengaruh Terhadap IHSG Sektor Konsumer
Abadi Lestari Indonesia (RLCO) saat ini sedang melakukan proses bookbuilding pada 24–26 November dengan kisaran harga Rp150–168 per saham. Perusahaan menargetkan dana maksimal Rp105 miliar dari penawaran umum perdana (IPO) yang akan menjadi tahap penting dalam ekspansi bisnisnya.
Dana yang dihimpun dari IPO ini akan digunakan untuk:
- 56,33% sebagai modal kerja guna memperkuat operasional perusahaan, terutama dalam pengembangan kapasitas produksi.
- 43,67% sebagai penyertaan modal kepada anak usaha Realfood Winta Asia, yang merupakan bagian dari diversifikasi bisnis perusahaan.
RLCO sendiri bergerak di bidang pengolahan sarang burung walet serta perdagangan produk kesehatan—dua segmen yang memiliki pertumbuhan cukup stabil di Indonesia. Saham perusahaan dijadwalkan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Desember. Kehadiran RLCO sebagai emiten baru berpotensi memberikan dinamika tambahan terhadap IHSG sektor consumer goods, terutama jika minat pasar pada IPO ini tinggi.
Prospek IHSG Beberapa Hari ke Depan
Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG diperkirakan akan berada dalam pola mixed movement. Tekanan jual asing masih menjadi faktor dominan yang membatasi penguatan indeks. Selain itu, arah IHSG juga dipengaruhi oleh beberapa variabel lain, seperti:
- Arus modal asing yang masih fluktuatif
- Pergerakan harga komoditas global, terutama emas, batu bara, dan minyak
- Sentimen suku bunga global dan domestik
- Kinerja saham-saham big caps yang mendominasi bobot indeks
Meskipun demikian, peluang rebound tetap terbuka jika sentimen global membaik atau jika terdapat katalis positif dari laporan kinerja emiten. Sektor industrial yang terus menguat juga dapat menjadi pendorong tambahan bagi pergerakan IHSG dalam waktu dekat.