IPO Insta360 2025 menjadikan Liu Jingkang, pendiri muda asal China, konglomerat baru dengan valuasi Rp 270 triliun. Saham melonjak 285% di hari pertama.
TradeSphereFx – IPO Insta360 2025 menjadi sorotan dunia keuangan global setelah saham produsen kamera aksi asal China itu melonjak lebih dari tiga kali lipat pada hari pertama perdagangan. Di balik kesuksesan tersebut, nama Liu Jingkang (JK) mencuat sebagai sosok muda visioner yang kini resmi menyandang status miliarder baru dengan valuasi perusahaan mencapai lebih dari Rp270 triliun.
Saham Insta360 Melonjak 285% di Hari Pertama
Kisah sukses Liu Jingkang dimulai ketika Insta360 resmi melantai di Bursa Efek Shanghai (STAR Market) pada Juni 2025. Mengutip Forbes, saham Insta360 dibuka di harga 182 yuan, naik 285% dari harga penawaran perdana (IPO) sebesar 47,27 yuan. Bahkan sempat menyentuh 188 yuan sebelum ditutup di 177 yuan.
Pencatatan ini menjadi IPO terbesar di STAR Market tahun 2025 dan menegaskan posisi Insta360 sebagai salah satu perusahaan teknologi konsumen paling inovatif di China. Dengan valuasi mencapai 115,81 miliar yuan (US$16,3 miliar) atau sekitar Rp270,75 triliun, kekayaan Liu kini diperkirakan menembus US$2,7 miliar (Rp44 triliun).
“Sepuluh tahun lalu, kami keluar dari asrama Universitas Nanjing dengan sumber daya terbatas dan impian besar. Kini produk unggulan kami telah berkembang dari ONE X menjadi X5,” ujar Liu dalam pidatonya di seremoni pencatatan saham.
Dari Asrama ke Bursa Saham: Perjalanan Liu Jingkang
Liu Jingkang adalah lulusan ilmu komputer dari Universitas Nanjing yang mendirikan Insta360 pada 2015. Kala itu, ia bermimpi menciptakan kamera 360 derajat yang bisa menangkap momen dari segala arah — ide yang kini mengubah hidupnya.
Ia pernah masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2017 berkat inovasi di bidang teknologi imaging. Di bawah kepemimpinannya, Insta360 berkembang dari startup kecil menjadi raksasa teknologi imaging global yang bersaing langsung dengan GoPro dan DJI.
Dalam IPO 2025, perusahaan — yang tercatat di bursa dengan nama Arashi Vision — berhasil menghimpun dana sebesar 1,94 miliar yuan (US$270 juta). Dana tersebut digunakan untuk memperkuat riset dan pengembangan (R&D) serta memperluas pasar internasional.
Insta360, “Little Giant” dari Shenzhen
Berbasis di kota teknologi Shenzhen, Insta360 dikenal lewat lini kamera aksi seri X dan kamera mini seri GO. Produk-produk ini digemari kreator konten global karena desain ringkas dan kemampuan merekam 360 derajat dengan kualitas tinggi.
Media pemerintah China bahkan menjuluki Insta360 sebagai “Little Giant”, istilah yang diberikan untuk perusahaan teknologi muda dengan pertumbuhan pesat dan potensi global.
Pada 2024, Insta360 mencatat pendapatan sebesar 5,6 miliar yuan (US$779,9 juta), naik 53,3% YoY. Laba bersihnya mencapai 994,7 juta yuan, tumbuh hampir 20% dibanding tahun sebelumnya. Menariknya, 76% pendapatan perusahaan berasal dari pasar luar negeri seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
Ekspansi Global dan Dukungan Investor Besar
Sebelum IPO, Insta360 telah menarik perhatian investor ternama seperti Qiming Venture Partners, IDG Capital, Xunlei, dan Suning Holdings Group. Pada 2019, perusahaan juga memperoleh investasi US$30 juta dari Everest Venture Capital dan MG Holdings.
Kini, dengan lebih dari 2.000 karyawan di China, AS, Jepang, dan Jerman, Insta360 menargetkan ekspansi global yang lebih agresif. Dalam prospektusnya, perusahaan menyatakan fokus pada pengembangan teknologi berbasis AI dan kompatibilitas dengan perangkat VR untuk memperluas ekosistem produk.
Inovasi AI dan Kolaborasi dengan Apple
Inovasi menjadi DNA Insta360. Pada April 2025, perusahaan meluncurkan fitur AI Editing yang mampu menambahkan musik dan transisi otomatis pada video pengguna, menjadikannya solusi ideal bagi kreator yang ingin mengedit cepat dan efisien.
Selain itu, Insta360 menjalin kemitraan strategis dengan Apple untuk mengintegrasikan teknologi kameranya dengan headset Apple Vision Pro. Kolaborasi ini memperkuat posisi Insta360 dalam dunia teknologi imersif dan augmented reality (AR/VR).
Tantangan: Persaingan dan Ketegangan Dagang
Meski berada di jalur pertumbuhan pesat, Insta360 menghadapi tantangan besar. Dua pesaing utamanya, GoPro dan DJI, terus berinovasi di pasar kamera aksi dan drone.
Selain itu, ketegangan dagang antara AS dan China menambah tekanan terhadap ekspansi luar negeri perusahaan. Dalam prospektus IPO-nya, Insta360 mengakui bahwa kebijakan tarif impor AS dan ketidakpastian geopolitik dapat berdampak pada distribusi dan margin keuntungan.
Pada 2024, Komisi Perdagangan Internasional AS (ITC) juga membuka penyelidikan atas dugaan pelanggaran paten yang diajukan oleh GoPro terhadap Insta360 — kasus yang hingga kini belum memiliki hasil resmi.
Peluang Besar dari Ekonomi Kreator Global
Terlepas dari tantangan, Insta360 berada di posisi strategis untuk memanfaatkan booming ekonomi kreator digital. Menurut laporan Deloitte, pada 2023 terdapat 50 juta kreator online dan lebih dari 5 miliar pengguna media sosial di seluruh dunia.
Nilai pasar industri kreator diperkirakan mencapai US$2 triliun pada 2026, dengan permintaan tinggi untuk kamera berkualitas profesional dan perangkat editing cerdas. Insta360 memposisikan diri sebagai brand pilihan utama bagi kreator konten global, baik profesional maupun amatir.
Dari Startup ke Raksasa Global
Kesuksesan IPO Insta360 2025 adalah bukti nyata bahwa inovasi dan visi jangka panjang bisa mengubah startup kecil menjadi raksasa global. Dalam waktu kurang dari satu dekade, Liu Jingkang membawa perusahaannya dari kamar asrama menuju panggung bursa saham, mengukuhkan dirinya sebagai konglomerat muda berpengaruh di industri teknologi.
Dengan fokus pada AI, ekspansi global, dan dukungan investor kuat, Insta360 berpotensi menjadi ikon teknologi berikutnya dari China yang bersaing di panggung dunia bersama nama besar seperti DJI dan Xiaomi.
One thought on “IPO Insta360 2025, Liu Jingkang Jadi Konglomerat Muda dengan Kekayaan Rp 270 Triliun”