Laba bersih DSSA merosot 27% pada kuartal III 2025 akibat pendapatan yang melemah dan beban usaha meningkat.
TradeSphereFx – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), salah satu perusahaan energi dan infrastruktur milik Grup Sinarmas, mencatatkan kinerja yang melemah sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Penurunan pendapatan, lonjakan sejumlah beban, hingga melemahnya kinerja beberapa entitas anak membuat laba bersih perseroan tertekan cukup dalam.
Mengacu pada laporan keuangan terbaru, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 27,31% menjadi US$ 177,24 juta per kuartal III 2025. Pada periode yang sama tahun lalu, DSSA masih mampu membukukan laba sebesar US$ 243,85 juta. Penurunan ini menunjukkan adanya tekanan kinerja yang signifikan pada bisnis inti perseroan.
Penurunan laba bersih pada kuartal ini bukan kejutan, mengingat beberapa indikator fundamental DSSA memang mengalami penurunan sejak awal tahun. Melemahnya permintaan energi, fluktuasi harga komoditas, serta meningkatnya biaya operasional menjadi faktor utama yang memengaruhi performa perusahaan.
Pendapatan Turun 10,26%, Tekan Margin Laba
Sepanjang Januari–September 2025, DSSA mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$ 2,01 miliar, turun 10,26% secara tahunan dari US$ 2,24 miliar pada periode yang sama di tahun 2024. Penurunan ini menunjukkan tekanan pada beberapa segmen usaha, terutama energi dan perdagangan yang selama ini menjadi kontributor terbesar.
Turunnya pendapatan turut menekan laba kotor, yang merosot hingga 26,69% menjadi US$ 690,7 juta per September 2025. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba kotor perseroan mencapai US$ 942,2 juta. Pelemahan laba kotor tersebut mencerminkan menyempitnya margin usaha akibat tekanan pendapatan yang tidak diimbangi dengan efisiensi biaya yang optimal.
Beban Usaha Meningkat, Tekanan Laba Makin Besar
Di tengah penurunan pendapatan, DSSA juga harus menghadapi kenaikan beberapa pos beban. Lonjakan beban ini semakin menggerus kinerja laba bersih perusahaan.
Beberapa beban yang meningkat antara lain:
- Beban pokok penjualan naik menjadi US$ 1,32 miliar
(dari US$ 1,3 miliar di September 2024) - Beban umum dan administrasi melonjak menjadi US$ 159,73 juta
(dari US$ 139,5 juta pada tahun sebelumnya) - Beban eksplorasi turut melejit menjadi US$ 1,71 juta
(dari hanya US$ 368,2 ribu per September 2024) - Jumlah beban usaha menanjak menjadi US$ 410,05 juta
(dari US$ 395,63 juta pada kuartal III 2024)
Kenaikan beban umum dan administrasi mengindikasikan adanya biaya tambahan terkait operasional dan ekspansi, sementara kenaikan beban eksplorasi menunjukkan adanya kegiatan eksplorasi tambahan yang dilakukan anak usaha di sektor energi.
Kombinasi turunnya pendapatan dan melonjaknya beberapa beban ini membuat laba perusahaan semakin tertekan.
Laba Per Saham Turun, Tekanan Pada Investor Retail
Dampak penurunan laba bersih juga terlihat pada laba per saham dasar, yang menyusut menjadi US$ 0,03 per kuartal III 2025. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba per saham DSSA masih berada di level US$ 0,04.
Penurunan laba per saham ini memberikan sinyal bahwa investor retail perlu berhati-hati. Kendati DSSA dikenal sebagai saham dengan fundamental kuat dan bagian dari konglomerasi besar Sinarmas, tekanan kinerja yang berkelanjutan dapat memengaruhi sentimen dan harga saham dalam jangka pendek.
Aset dan Liabilitas DSSA Mengalami Kenaikan
Di tengah penurunan kinerja laba, struktur keuangan DSSA sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan dari sisi aset. Per 30 September 2025, total aset DSSA mencapai US$ 4,17 miliar, meningkat dari US$ 3,69 miliar pada 31 Desember 2024.
Kenaikan aset tersebut mencerminkan ekspansi dan investasi strategis yang dilakukan perseroan, baik di sektor energi maupun teknologi melalui portofolio perusahaan digital di bawah Grup Sinarmas.
Namun, peningkatan aset ini juga diikuti kenaikan pada liabilitas. Jumlah liabilitas perseroan mencapai US$ 2,01 miliar per akhir September 2025, naik dari US$ 1,75 miliar pada akhir tahun 2024. Kenaikan liabilitas dapat menandakan adanya pendanaan tambahan melalui pinjaman atau kewajiban lain untuk menopang ekspansi usaha.
Sementara itu, ekuitas DSSA naik menjadi US$ 2,15 miliar, dari US$ 1,94 miliar di akhir tahun sebelumnya. Kenaikan ekuitas ini menunjukkan bahwa posisi modal perusahaan tetap kuat meski laba menurun.
Kas dan Setara Kas Menurun
Di sisi likuiditas, posisi kas DSSA menunjukkan penurunan. Perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 604,24 juta per akhir September 2025. Angka tersebut turun dari US$ 695,08 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan kas ini dapat mengindikasikan bahwa perseroan melakukan pengeluaran modal (CAPEX) lebih besar, pembayaran liabilitas, atau peningkatan investasi di sektor strategis. Meski demikian, posisi kas DSSA masih tergolong kuat untuk menopang kebutuhan operasional dan ekspansi jangka pendek.
Kinerja Melemah, Prospek Perlu Diwaspadai
Kinerja DSSA pada kuartal III 2025 menunjukkan tekanan yang cukup signifikan dengan penurunan laba bersih lebih dari 27% dan pelemahan margin usaha. Turunnya pendapatan dan meningkatnya beban menjadi kombinasi yang menekan performa perusahaan.
Meskipun aset dan ekuitas mengalami pertumbuhan, investor tetap perlu mencermati tren penurunan laba serta posisi kas yang mengecil. Ke depan, prospek DSSA akan sangat bergantung pada:
- Harga komoditas energi global
- Efektivitas manajemen dalam menekan biaya
- Kinerja anak usaha di sektor teknologi dan digital
- Kondisi pasar energi dan listrik domestik
Jika DSSA mampu menyeimbangkan antara ekspansi dan efisiensi biaya, perusahaan berpeluang memperbaiki kinerja pada kuartal berikutnya.
One thought on “Laba DSSA Turun 27% pada Kuartal III”