Meta Platforms memangkas 1.000 karyawan di Reality Labs setelah bisnis metaverse mencatat kerugian lebih dari US$70 miliar dan fokus dialihkan ke wearable AI.
TradeSphereFx – Meta Platforms kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dengan memangkas lebih dari 1.000 karyawan di divisi Reality Labs. Jumlah tersebut setara sekitar 10% dari total tenaga kerja divisi tersebut yang mencapai sekitar 15.000 orang. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengalihkan fokus bisnis dari metaverse dan realitas virtual (VR) ke pengembangan perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI).
Karyawan yang terdampak mulai menerima pemberitahuan PHK pada pertengahan Januari. Keputusan ini menandai perubahan arah yang cukup signifikan dalam strategi jangka menengah Meta, setelah selama beberapa tahun terakhir perusahaan menggelontorkan investasi besar-besaran untuk membangun ekosistem metaverse.
Pergeseran Strategi: Dari Metaverse ke Wearable AI
Manajemen Meta menegaskan bahwa perusahaan tengah mengalihkan prioritas investasi dari proyek metaverse yang padat modal ke produk wearable berbasis AI serta fitur AI di perangkat seluler. Fokus baru ini mencerminkan perubahan preferensi pasar, di mana adopsi teknologi AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan metaverse.
Dalam penjelasan internal, Meta menyebut pengembangan metaverse kini diarahkan ulang agar lebih berkelanjutan secara finansial. Investasi besar pada perangkat VR kelas atas akan dikurangi, sementara sumber daya dialihkan ke produk yang dinilai memiliki potensi komersial lebih cepat, seperti kacamata pintar dan integrasi AI pada ponsel.
Reality Labs dan Beban Kerugian
Reality Labs merupakan unit yang menaungi berbagai proyek futuristik Meta, mulai dari headset VR, kacamata pintar, hingga dunia virtual. Namun, divisi ini telah menjadi sumber kerugian terbesar perusahaan. Sejak awal 2021, Reality Labs tercatat membukukan kerugian kumulatif lebih dari US$70 miliar.
Besarnya kerugian tersebut tidak diimbangi dengan kontribusi pendapatan yang signifikan. Adopsi metaverse berjalan lebih lambat dari ekspektasi awal, sementara pasar perangkat VR belum berkembang sesuai skenario optimistis yang pernah diproyeksikan.
Kondisi ini mendorong manajemen untuk meninjau ulang strategi dan menekan biaya agar divisi tersebut tidak terus membebani kinerja keuangan grup.
Kacamata AI Jadi Andalan Baru
Seiring meningkatnya fokus pada AI, Meta mempercepat pengembangan perangkat wearable, khususnya kacamata pintar berbasis AI. Perusahaan saat ini menjalin kemitraan strategis dengan produsen kacamata global untuk mengembangkan produk-produk bermerek yang menyasar konsumen massal.
Produk kacamata pintar dinilai memiliki potensi pasar yang jauh lebih luas dibandingkan headset VR imersif. Selain lebih ringan dan praktis, perangkat ini dapat terintegrasi langsung dengan asisten AI, kamera, serta fitur komunikasi sehari-hari.
Manajemen bahkan mempertimbangkan peningkatan signifikan kapasitas produksi tahunan kacamata AI hingga puluhan juta unit pada akhir 2026, seiring dengan permintaan yang terus meningkat.
Kinerja Awal Lampaui Ekspektasi
Meta menyebut kinerja awal produk kacamata AI melampaui ekspektasi internal. Respons pasar yang positif menjadi sinyal kuat bahwa wearable AI berpotensi menjadi pilar pertumbuhan baru perusahaan, menggantikan peran metaverse yang selama ini belum memberikan hasil nyata.
Kacamata pintar juga diposisikan sebagai pintu masuk utama untuk memperluas adopsi asisten AI Meta ke kehidupan sehari-hari pengguna, baik untuk komunikasi, pencarian informasi, maupun pembuatan konten.
Metaverse Tidak Ditinggalkan Sepenuhnya
Meski fokus utama bergeser, Meta menegaskan bahwa pengembangan metaverse tidak dihentikan sepenuhnya. Perusahaan hanya mengubah pendekatan dengan memprioritaskan pengalaman berbasis ponsel pintar dibandingkan headset VR imersif penuh.
Tim pengembang metaverse yang kini berada di bawah payung Horizon akan memusatkan perhatian pada platform mobile. Strategi ini didasarkan pada fakta bahwa basis pengguna ponsel jauh lebih besar dan tingkat pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan pengguna perangkat VR.
Pendekatan mobile-first diharapkan mampu menjaga relevansi metaverse sambil menekan biaya pengembangan yang selama ini terlalu tinggi.
Organisasi VR Dibuat Lebih Ramping
Ke depan, divisi VR Meta akan beroperasi dengan struktur organisasi yang lebih ramping dan datar. Peta jalan pengembangan produk juga dibuat lebih fokus untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.
Investasi pada headset VR tetap berjalan, namun tidak lagi seagresif sebelumnya. Meta menilai pendekatan yang lebih selektif dan disiplin secara finansial menjadi kunci agar bisnis VR tidak terus membakar kas perusahaan.
Sinyal Perubahan Arah Industri Teknologi
Langkah Meta memangkas 1.000 karyawan dan mengalihkan fokus ke AI mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi global. Perusahaan-perusahaan besar kini semakin berhati-hati terhadap proyek jangka panjang yang belum jelas monetisasinya, dan lebih memilih investasi pada AI yang memberikan dampak bisnis lebih cepat.
Keputusan ini juga menjadi pengakuan implisit bahwa metaverse belum siap menjadi mesin pertumbuhan utama. Sebaliknya, AI dan wearable dinilai lebih relevan dengan kebutuhan pasar saat ini dan memiliki peluang komersialisasi yang lebih nyata.