Bank Indonesia menurunkan BI Rate dari 6% ke 4,75% sepanjang 2025 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Simak jejak kebijakan moneter, inflasi, dan prospek rupiah di tengah volatilitas global.
TradeSphereFx – Sejak awal 2025, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah pelonggaran kebijakan moneter yang cukup agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. BI Rate, suku bunga acuan utama, bergerak dari level 6 persen di akhir 2024 menjadi 4,75 persen pada November 2025. Penurunan total sebesar 125 basis poin ini merupakan yang terendah sejak 2022, dilakukan seiring inflasi yang tetap jinak dan pertumbuhan ekonomi yang moderat.
Dengan inflasi yang masih berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen, BI menilai ruang pelonggaran masih tersedia untuk mendukung perekonomian. Pertumbuhan ekonomi paruh pertama 2025 tercatat 4,8–5,1 persen, menunjukkan ekonomi domestik tetap stabil meski menghadapi ketidakpastian global.
BI Rate: Suku Bunga Utama Bank Indonesia
Sejak 21 Desember 2023, istilah BI Rate menggantikan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebagai acuan kebijakan moneter. Meskipun nama berubah, mekanisme tetap sama: mencerminkan suku bunga transaksi reverse repo tujuh hari antara BI dan perbankan.
Setiap perubahan BI Rate menjadi rujukan utama bagi pergerakan suku bunga perbankan, mulai dari deposito hingga kredit konsumsi dan KPR. Hal ini menjadikan BI Rate indikator utama transmisi kebijakan moneter ke seluruh ekonomi.
Awal 2025: Sinyal Pelonggaran Pertama
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 14–15 Januari 2025 menjadi titik awal pelonggaran. BI menurunkan BI Rate 25 bps dari 6 persen menjadi 5,75 persen, sementara Deposit Facility 5,00 persen dan Lending Facility 6,50 persen.
Keputusan ini didasari inflasi yang rendah. Inflasi IHK Januari tercatat 0,76 persen yoy, dengan inflasi inti 2,36 persen. BI menilai langkah awal ini konsisten dengan target inflasi 2,5 persen plus minus 1 persen, nilai tukar rupiah yang sesuai fundamental, dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Februari hingga April 2025, BI menahan suku bunga di 5,75 persen. Keputusan ini bertujuan menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus menstabilkan rupiah, di tengah pertumbuhan ekonomi kuartal I 2025 sebesar 4,87 persen yoy, sedikit di bawah kuartal sebelumnya.
Mei–Juni 2025: Pelonggaran Terukur Dimulai
Memasuki Mei, RDG BI menurunkan BI Rate 25 bps menjadi 5,50 persen. Inflasi Mei 2025 tercatat 1,6 persen yoy, masih di bawah titik tengah sasaran. BI juga menekankan penurunan rasio likuiditas makroprudensial untuk memberi ruang bagi perbankan menyalurkan kredit.
Pada Juni, BI menahan suku bunga di 5,50 persen. Inflasi IHK mencapai 1,87 persen yoy, masih rendah, sementara pertumbuhan ekonomi mulai menunjukkan tanda pemulihan. Kebijakan ini membuka peluang pelonggaran lebih lanjut pada bulan-bulan berikutnya.
Juli–Agustus 2025: Siklus Pelonggaran Menguat
Pada RDG 15–16 Juli, BI menurunkan BI Rate 25 bps menjadi 5,25 persen, diikuti penguatan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 menjadi 5,12 persen yoy. Inflasi tetap jinak di 2,37 persen yoy, masih dalam target.
Selanjutnya, RDG 19–20 Agustus menurunkan BI Rate lagi 25 bps menjadi 5,00 persen. BI menekankan keputusan ini sesuai dengan inflasi yang rendah dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan global, termasuk akibat kebijakan tarif AS.
September 2025: Titik Terendah BI Rate
Puncak pelonggaran terjadi pada RDG 16–17 September 2025. BI menurunkan BI Rate 25 bps menjadi 4,75 persen, Deposit Facility 3,75 persen, dan Lending Facility 5,50 persen. Inflasi September 2025 tercatat 2,65 persen yoy, masih dalam kisaran sasaran.
Kebijakan ini diikuti ekspansi likuiditas dan longgarnya kebijakan makroprudensial untuk mendorong kredit dan pertumbuhan. BI melihat ruang pelonggaran masih ada, meski risiko global tetap tinggi.
Oktober–November 2025: Jeda dan Fokus Stabilitas
Setelah serangkaian penurunan, BI menahan BI Rate di 4,75 persen pada Oktober dan November 2025. Inflasi Oktober mencapai 2,86 persen yoy, tetap dalam sasaran. Fokus kebijakan saat ini adalah menstabilkan rupiah dan memperkuat transmisi pelonggaran moneter.
Suku bunga pasar uang overnight turun dari 6,03 persen menjadi sekitar 4,00 persen, menandakan pelonggaran kebijakan telah meresap ke pasar uang. Rupiah merespons positif, menguat tipis ke Rp 16.700 per USD, sementara yield SUN tenor pendek menurun, menandakan meningkatnya minat investor.
Dampak dan Prospek Ekonomi
Pelonggaran BI Rate berdampak luas:
- Memperkuat pertumbuhan konsumsi dan investasi melalui kredit murah.
- Meningkatkan likuiditas perbankan dan mendorong ekspansi pinjaman.
- Menstabilkan rupiah di tengah volatilitas global.
Ke depan, BI diperkirakan akan tetap berhati-hati menyesuaikan BI Rate dengan kondisi inflasi, pertumbuhan, dan tekanan eksternal, menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan dukungan terhadap perekonomian.