PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) menargetkan pendapatan Rp 600 miliar pada 2026 lewat ekspansi ke bisnis pertambangan batu bara. Perseroan yakin strategi ini menjadi sumber pertumbuhan baru dan pendapatan berulang jangka panjang.
TradeSphereFx – Emiten penyewaan alat berat dan logistik PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) menargetkan pendapatan sebesar Rp 600 miliar pada tahun 2026. Target ambisius ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah perusahaan untuk memperkuat portofolio bisnis, terutama melalui ekspansi ke sektor pertambangan batu bara yang kini menjadi tumpuan utama pertumbuhan.
Manajemen SMIL menilai sektor batu bara masih memiliki prospek cerah dalam dua hingga tiga tahun mendatang, seiring tingginya permintaan energi global dan kebutuhan suplai domestik. Melalui ekspansi ini, perusahaan berharap menciptakan pendapatan berulang (recurring income) yang stabil, tidak hanya bergantung pada proyek penyewaan alat berat konvensional.
Pertumbuhan Aset Menunjukkan Arah Positif
Berdasarkan laporan keuangan sembilan bulan tahun ini, sebagaimana tercantum dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), total aset SMIL mencapai Rp 1,15 triliun, naik dari posisi Rp 1,11 triliun di akhir 2024. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas investasi yang dijalankan perusahaan dalam memperkuat armada dan kapasitas operasional sepanjang 2025.
Sementara itu, liabilitas jangka pendek tercatat sebesar Rp 105,31 miliar, menandakan struktur keuangan perusahaan yang tetap solid dan terkendali di tengah ekspansi agresif. SMIL juga melaporkan arus kas operasi yang terjaga positif, memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam membiayai kebutuhan modal kerja dari hasil operasional.
Direktur Utama: Batu Bara Jadi Pilar Pertumbuhan Baru
Direktur Utama SMIL, Hadi Suhermin, menyampaikan bahwa pencapaian target Rp 600 miliar akan sangat bergantung pada peningkatan permintaan jasa penyewaan alat berat di sektor pertambangan batu bara.
“Kami melihat ceruk pasar yang besar pada jasa penyewaan alat berat di kawasan tambang. Batu bara masih menjadi pilar utama ketahanan energi nasional, dan kami siap menjadi mitra strategis yang menyediakan alat berat dengan efisiensi dan keandalan tinggi,” ujar Hadi dalam keterangannya, Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, lonjakan aktivitas produksi di sejumlah wilayah tambang membuat kebutuhan akan alat berat meningkat signifikan. Selain itu, perusahaan juga melihat potensi dari proyek-proyek ekspor batu bara ke Asia Timur dan Asia Selatan yang terus tumbuh.
“Momentum kenaikan harga batu bara global menjadi peluang penting bagi kami. SMIL tidak hanya menyewakan alat berat, tetapi juga ingin masuk ke rantai nilai yang lebih dalam melalui kerja sama operasional langsung di tambang,” tambah Hadi.
Ekspansi Melalui Skema Joint Operation (JO)
Sebagai langkah strategis, SMIL memperluas lini usaha ke sektor pertambangan melalui skema joint operation (JO) bersama sejumlah mitra strategis di bawah payung Sarana Cipta Minergi (SCM).
Dalam kolaborasi tersebut, SMIL bekerja sama dengan PT Barakara dan PT ATOZ, dua perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) aktif. Berdasarkan struktur kerja sama, SCM menguasai 40% saham operasional, sementara SMIL bertindak sebagai penyedia utama alat berat seperti dump truck, excavator, bulldozer, hingga unit pendukung lainnya.
Tambang batu bara yang dikelola di bawah JO ini berlokasi di Painan, Sumatera Barat, dengan target produksi awal 200 ribu metrik ton per bulan, serta potensi peningkatan hingga 500 ribu ton per bulan pada tahap ekspansi berikutnya.
“Kami ingin memastikan bahwa kontribusi sektor tambang ini tidak hanya menjadi sumber pendapatan jangka pendek, tetapi juga menopang keberlanjutan bisnis penyewaan alat berat SMIL dalam jangka panjang,” jelas Hadi.
Efisiensi Armada dan Transformasi Digital
Untuk menunjang ekspansi ini, SMIL berfokus memperkuat sistem operasional berbasis digital agar efisiensi armada dapat dimaksimalkan. Melalui sistem pemantauan terpadu, perusahaan bisa mengoptimalkan rotasi alat berat, menekan downtime, dan mengurangi biaya perawatan.
SMIL juga sedang menjajaki kolaborasi dengan perusahaan teknologi untuk mengembangkan fleet management system berbasis Internet of Things (IoT). Sistem ini memungkinkan pemantauan kinerja alat berat secara real-time di lokasi tambang, sehingga manajemen dapat mengambil keputusan operasional lebih cepat dan akurat.
Selain itu, SMIL juga berencana menambah kapasitas bengkel pemeliharaan alat berat di wilayah Sumatera dan Kalimantan guna mendukung operasi tambang baru yang terus bertambah.
Proyeksi dan Outlook 2026
Menurut analis pasar modal, langkah SMIL masuk ke bisnis tambang berpotensi meningkatkan kontribusi pendapatan hingga 30% terhadap total revenue dalam dua tahun ke depan. Jika target Rp 600 miliar tercapai, pertumbuhan pendapatan SMIL akan mencapai 45–50% dibandingkan proyeksi 2025, menjadikannya salah satu emiten alat berat dengan laju pertumbuhan tercepat di BEI.
Dari sisi profitabilitas, margin laba bersih diperkirakan meningkat seiring skala operasi yang lebih besar dan efisiensi logistik. Ekspansi juga akan memperkuat struktur arus kas, menambah nilai aset produktif, serta memperluas jangkauan bisnis SMIL di sektor energi dan pertambangan.
Langkah ekspansi PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) ke sektor pertambangan batu bara menjadi tonggak penting transformasi perusahaan. Dari penyedia jasa alat berat, kini SMIL bergerak menjadi pelaku aktif dalam rantai pasok energi nasional.
Dengan struktur keuangan solid, kemitraan strategis kuat, dan digitalisasi operasional, SMIL optimistis dapat mencapai target pendapatan Rp 600 miliar pada 2026 sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri alat berat dan tambang Indonesia.
One thought on “SMIL Bidik Pendapatan Rp 600 M di 2026, Ekspansi Batu Bara Jadi Penopang Utama”