Bank Indonesia buka operasi moneter yuan dan yen untuk perkuat stabilitas rupiah di tengah volatilitas global dan meningkatnya transaksi LCT Indonesia–China.
TradeSphereFx – Bank Indonesia (BI) terus mengambil langkah strategis untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Salah satu inisiatif terbaru adalah pembukaan operasi moneter valuta asing dalam mata uang yuan (CNY) dan yen Jepang (JPY). Langkah ini diharapkan dapat meredam volatilitas rupiah dan memperkuat pasar valas domestik.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang masih tinggi akibat ketidakpastian ekonomi global. Indeks dolar AS (DXY) terus menguat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang berada di level tinggi, memicu risk-off di pasar keuangan emerging market.
Tekanan Terhadap Rupiah dan Mata Uang Regional
Sejak Oktober, rupiah mengalami pelemahan seiring terbatasnya arus masuk modal (inflow) ke pasar emerging market. “Kalau kita lihat apa yang terjadi dengan rupiah dan beberapa mata uang regional, memang khususnya sejak Oktober sampai saat ini terus mengalami pelemahan,” ujar Destry saat konferensi pers pada Rabu (19/11/2025).
Meski demikian, volatilitas harian rupiah tetap tinggi. Pada perdagangan Rabu kemarin, rupiah menguat 0,21 persen, sementara Filipina dan Thailand masing-masing mencatat penguatan 0,25 persen dan 0,11 persen. Untuk meredam gejolak, BI telah melakukan intervensi di berbagai instrumen, termasuk:
- Pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore
- NDF domestik untuk keperluan hedging
- Transaksi spot
Namun, BI menilai langkah tersebut belum cukup untuk menjaga stabilitas rupiah secara optimal.
Pembukaan Operasi Moneter dalam Yuan dan Yen
Sebagai langkah lanjutan, BI memperdalam pasar valas domestik melalui pengembangan instrumen baru. Salah satunya adalah operasi moneter valuta asing dalam yuan dan yen.
“Kita akan memperluas instrumen operasi moneter valas yang mendukung pasar valas kita, yaitu BI akan membuka instrumen operasi moneter dalam renminbi (CNY) dan yen Jepang (JPY),” jelas Destry.
Instrumen ini diharapkan mempermudah bank dalam memperoleh likuiditas CNY dan JPY, sekaligus mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Langkah ini juga didorong oleh tingginya permintaan terhadap kedua mata uang tersebut, terutama dalam transaksi bilateral dengan China dan Jepang.
Peningkatan Transaksi Lokal dengan China (LCT)
Salah satu faktor utama yang mendorong pengembangan instrumen ini adalah meningkatnya Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan China. Volume LCT tercatat mencapai 1 miliar USD per bulan, menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Destry menambahkan bahwa pada Oktober 2025, volume LCT meningkat 1,6 kali lipat dibanding total transaksi sepanjang 2024. Jumlah peserta pun melonjak menjadi 15.473 entitas, dari hanya 5.053 pada 2024.
“Melihat area ini, kami mengantisipasi dengan membuka pasar renminbi dan yen domestik. Kami berharap stabilitas rupiah dapat lebih terjaga,” tuturnya.
Dampak Strategis bagi Stabilitas Rupiah
Pembukaan operasi moneter dalam yuan dan yen memiliki beberapa manfaat strategis bagi stabilitas rupiah:
- Meningkatkan likuiditas valas bagi perbankan domestik, khususnya dalam CNY dan JPY.
- Mengurangi ketergantungan pada USD, sehingga bank lebih fleksibel menghadapi tekanan global.
- Memperkuat pasar valas domestik, mendukung transaksi lokal maupun internasional.
Dengan langkah ini, BI tidak hanya meredam volatilitas jangka pendek tetapi juga menyiapkan pondasi yang lebih kuat bagi stabilitas nilai tukar rupiah jangka menengah hingga panjang.
Prospek Pasar Valas Indonesia
Ke depan, instrumen baru ini diharapkan dapat mendorong beberapa hal positif:
- Peningkatan transaksi bilateral dengan China dan Jepang.
- Penguatan posisi rupiah di pasar regional.
- Diversifikasi cadangan valas bank, sehingga lebih siap menghadapi gejolak global.
Langkah ini sejalan dengan tren global, di mana negara-negara emerging market semakin memanfaatkan mata uang lokal untuk transaksi lintas negara, mengurangi dominasi dolar AS. Hal ini membuka peluang bagi Indonesia untuk lebih mandiri dalam pengelolaan pasar valas.
Langkah Bank Indonesia membuka operasi moneter dalam yuan dan yen merupakan strategi penting untuk memperkuat stabilitas rupiah. Dengan meningkatnya transaksi LCT Indonesia–China dan volatilitas pasar global yang tinggi, instrumen ini memberikan:
- Likuiditas lebih besar bagi perbankan domestik
- Pilihan diversifikasi mata uang asing
- Fondasi lebih kuat untuk menjaga nilai rupiah
Dengan demikian, BI siap menghadapi tekanan global sekaligus memperkuat posisi rupiah di pasar regional dan internasional. Kebijakan ini menunjukkan upaya proaktif BI dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan Indonesia di tengah dinamika pasar global.