Bank Indonesia menggelar FEKDI x IFSE 2025 untuk memperkuat transformasi keuangan digital nasional. QRIS, BI-FAST, dan kolaborasi lintas lembaga jadi fokus utama.
TradeSphereFx – Transformasi keuangan digital kini menjadi fondasi penting dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan. Perkembangan teknologi finansial di Indonesia terus menunjukkan kemajuan pesat. Bahkan, menurut World Digital Competitiveness Ranking 2024, Indonesia berhasil naik ke posisi ke-43 dunia, menandakan peningkatan signifikan dalam adopsi inovasi dan infrastruktur digital.
Sebagai bentuk nyata komitmen untuk mempercepat transformasi tersebut, Bank Indonesia (BI) kembali menggelar FEKDI x IFSE 2025 (Festival Ekonomi dan Keuangan Digital). Tahun ini, ajang tahunan tersebut berkolaborasi dengan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sinergi dua event besar ini menjadi wadah strategis bagi regulator, pelaku industri, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional.
Sinergi Infrastruktur untuk Ekonomi Digital Nasional
Dalam sambutannya di Jakarta Convention Center (JCC), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa Indonesia kini termasuk negara dengan perkembangan ekonomi dan keuangan digital tercepat di dunia. Salah satu tonggak penting dalam perjalanan tersebut adalah peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada tahun 2019.
“Alhamdulillah, QR Indonesian Standard menyelamatkan Indonesia dari COVID-19 karena membantu distribusi bantuan sosial dan berbagai transaksi penting. Sekarang QRIS sudah digunakan hampir 60 juta pengguna, di antaranya 40 juta merupakan pelaku UMKM,” ujar Perry pada Kamis (30/10/2025).
Perry menjelaskan bahwa volume transaksi digital melalui berbagai kanal kini telah mencapai 37 miliar transaksi per tahun. Angka ini mencerminkan betapa masifnya transformasi digital dalam sistem pembayaran Indonesia, sekaligus menunjukkan kedaulatan finansial nasional yang semakin kuat.
Menurut Perry, semua capaian ini merupakan bagian dari implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) yang mengusung satu visi dan strategi menuju Sistem Pembayaran Indonesia 2030. Tujuannya adalah membangun sistem pembayaran yang cepat, aman, efisien, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kolaborasi Lintas Lembaga Dorong Digitalisasi Nasional
FEKDI x IFSE 2025 tidak hanya menjadi ajang pameran teknologi finansial, tetapi juga forum strategis bagi kolaborasi lintas lembaga. Bank Indonesia menggandeng OJK, Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI), dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) untuk mempercepat digitalisasi keuangan.
Dalam BSPI 2030, BI menekankan tiga fokus utama:
- Penguatan infrastruktur sistem pembayaran, termasuk pengembangan BI-FAST, RTGS (Real Time Gross Settlement) terbaru, dan infrastruktur data nasional.
- Konsolidasi industri keuangan digital, agar lebih efisien dan tangguh menghadapi disrupsi teknologi.
- Dorongan inovasi dan kompetisi, melalui program hackathon dan riset teknologi finansial untuk melahirkan solusi digital baru.
Perry juga menegaskan bahwa BI terus memperluas kerja sama QRIS Cross-Border Payment dengan berbagai negara. Saat ini, sistem pembayaran lintas batas tersebut telah terkoneksi dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan China.
“Hari ini kita mulai sandboxing dengan Korea Selatan, insyaallah tahun depan sudah bisa terkoneksi penuh. Selain itu, BI bersama OJK juga memperkuat keamanan siber dan literasi keuangan digital masyarakat,” tutur Perry.
QRIS, Pilar Ekonomi Digital UMKM
Dalam sesi terpisah, Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) BI, Arya Rangga Yogasati, menekankan pentingnya peran QRIS sebagai motor penggerak ekonomi digital bagi sektor UMKM.
“Harapan kami, QRIS dapat terus meningkatkan inklusi keuangan dan memperkuat ekonomi UMKM. Saat ini, sekitar 90% pengguna QRIS merupakan pelaku usaha mikro dan kecil,” ungkap Arya.
Data tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital melalui QRIS telah menjangkau sektor akar rumput, membuka akses transaksi yang lebih luas bagi masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Dengan transaksi tanpa uang tunai, pelaku UMKM dapat mempercepat proses pembayaran, mengurangi biaya operasional, dan meningkatkan transparansi usaha.
Arya menambahkan bahwa melalui FEKDI x IFSE 2025, BI berkomitmen menjadikan digitalisasi keuangan sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
“Untuk mendorong transformasi tersebut, perlu perluasan akseptasi QRIS secara masif. BI tidak bisa berjalan sendiri, tetapi terus bersinergi dengan pemerintah, kementerian dan lembaga terkait, serta penyelenggara sistem pembayaran,” ujarnya.
Menuju Ekonomi Digital Berdaulat
Transformasi keuangan digital yang dilakukan Bank Indonesia bukan sekadar tren, tetapi langkah strategis menuju kedaulatan ekonomi digital nasional. Dengan fondasi kuat dari sistem pembayaran yang terintegrasi, infrastruktur data yang mumpuni, dan kolaborasi lintas lembaga, Indonesia tengah membangun ekosistem finansial yang lebih adaptif terhadap perubahan global.
Melalui penyelenggaraan FEKDI x IFSE 2025, Bank Indonesia tidak hanya menampilkan inovasi teknologi, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai penggerak utama digitalisasi ekonomi. Kolaborasi antara regulator, industri, dan masyarakat menjadi kunci agar transformasi ini berdampak nyata bagi kesejahteraan nasional.
Dengan semangat “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Sistem Pembayaran Indonesia,” BI ingin memastikan bahwa transformasi keuangan digital benar-benar membawa manfaat bagi semua lapisan masyarakat—dari pelaku UMKM hingga korporasi besar—menuju ekonomi Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan berdaya saing global.
One thought on “Transformasi Keuangan Digital, BI Gelar FEKDI x IFSE 2025 Perkuat Ekonomi RI”