Lonjakan yield obligasi Jepang ke 4% mengguncang pasar. Bursa Asia melemah di tengah ancaman tarif AS dan ketidakpastian politik Jepang.
TradeSphereFx – Pasar saham Asia-Pasifik bergerak lesu pada awal pekan seiring meningkatnya ketidakpastian global dan domestik. Sentimen negatif terutama dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi sepanjang sejarah, serta memburuknya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland.
Pelaku pasar menunjukkan kehati-hatian yang tinggi, tercermin dari pelemahan mayoritas indeks utama kawasan. Investor menimbang dampak kebijakan moneter, risiko geopolitik, dan perkembangan politik Jepang yang berpotensi mengubah arah kebijakan ekonomi negara tersebut dalam waktu dekat.
Yield Obligasi Jepang Sentuh Rekor 4%
Pergerakan pasar Asia dibayangi oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun yang untuk pertama kalinya menyentuh level 4%. Kenaikan ini menandai perubahan signifikan dalam lanskap suku bunga Jepang, yang selama bertahun-tahun dikenal dengan kebijakan moneter ultra-longgar.
Lonjakan yield mencerminkan ekspektasi pasar terhadap normalisasi kebijakan moneter yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Investor juga mengantisipasi kemungkinan biaya pinjaman yang lebih tinggi bagi pemerintah Jepang, korporasi, dan sektor keuangan dalam jangka menengah.
Dampaknya terasa luas di pasar regional. Yen menunjukkan volatilitas, sementara investor global menilai ulang eksposur mereka terhadap aset berdenominasi yen dan obligasi Jepang. Kenaikan yield juga menekan pasar ekuitas, karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik saham dibandingkan instrumen berpendapatan tetap.
Ketegangan Tarif AS–Eropa Menambah Tekanan
Selain faktor domestik Jepang, ketegangan perdagangan global kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat mengancam memberlakukan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland. Ancaman ini memicu respons keras dari negara-negara Eropa, yang dilaporkan tengah membahas tarif balasan serta langkah-langkah ekonomi hukuman lainnya.
Rencana tarif AS dimulai dari 10% pada Februari dan berpotensi meningkat menjadi 25% pada Juni jika negosiasi tidak mencapai kesepakatan. Situasi ini menambah ketidakpastian bagi pasar global, mengingat konflik dagang dapat mengganggu rantai pasok, menekan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Investor di Asia merespons dengan sikap defensif, mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Sektor ekspor dan teknologi, yang sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan perdagangan, menjadi yang paling terdampak.
Kinerja Indeks Utama Asia-Pasifik
Jepang – Nikkei dan Topix Tertekan
Indeks Nikkei 225 Jepang turun sekitar 0,7%, sementara Topix melemah 0,52%. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kombinasi antara kenaikan yield obligasi, potensi perubahan kebijakan moneter, dan ketidakpastian politik menjelang pemilu sela.
Sektor perbankan dan properti mengalami tekanan terbesar, karena kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan menekan margin keuntungan. Di sisi lain, saham-saham eksportir juga terpengaruh oleh volatilitas yen dan risiko perlambatan permintaan global.
Hong Kong – Hang Seng Relatif Stabil
Di Hong Kong, indeks berjangka Hang Seng berada di sekitar 26.640, sedikit lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya. Meskipun sentimen regional negatif, pasar Hong Kong menunjukkan ketahanan relatif.
Bank sentral China mempertahankan suku bunga pinjaman utama 1 tahun di 3% dan 5 tahun di 3,5%, tidak berubah selama delapan bulan berturut-turut. Stabilitas kebijakan moneter ini memberikan sedikit dukungan bagi pasar, meskipun kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China masih membayangi.
Korea Selatan – Kospi Meleh Tipis
Indeks Kospi Korea Selatan turun sekitar 0,41%, sementara indeks Kosdaq untuk saham berkapitalisasi kecil relatif stabil. Pelemahan Kospi mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi global dan dampak potensial dari ketegangan perdagangan terhadap sektor teknologi dan manufaktur Korea.
Namun, stabilnya Kosdaq menunjukkan bahwa investor masih melihat peluang di saham-saham berkapitalisasi kecil yang lebih domestik dan kurang terpapar risiko global.
Australia – ASX 200 Ikut Tertekan
Indeks S&P/ASX 200 Australia turun sekitar 0,46%. Sektor komoditas dan keuangan menjadi penekan utama, seiring melemahnya sentimen risiko global dan kekhawatiran terhadap permintaan dari China, mitra dagang terbesar Australia.
Ketidakpastian Politik Jepang Menjelang Pemilu Sela
Perkembangan politik di Jepang menjadi perhatian utama investor. Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan rencana pembubaran parlemen dan penyelenggaraan pemilu sela pada 8 Februari.
Saat ini, koalisi pemerintah hanya memiliki mayoritas tipis satu kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Pemilu sela berpotensi meningkatkan ketidakpastian jangka pendek, tetapi juga bisa memberikan kejelasan kebijakan yang lebih kuat jika pemerintah memperoleh mandat yang lebih solid.
Fitch Group menilai bahwa meskipun ketidakpastian politik dapat memicu volatilitas pasar, hasil pemilu yang jelas dapat membantu stabilisasi kebijakan fiskal dan ekonomi Jepang ke depan.
Prospek Utang Pemerintah Jepang
Fitch memperkirakan utang pemerintah Jepang akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang, namun secara bertahap menurun seiring dengan pertumbuhan PDB nominal yang lebih kuat.
Rasio utang terhadap PDB diproyeksikan turun ke kisaran pertengahan 190% pada tahun fiskal 2029, dari sekitar 199,5% pada 2025. Angka ini masih sangat tinggi dibandingkan standar global, tetapi menunjukkan tren perbaikan dibandingkan puncak 222% pada 2020.
Namun, biaya pinjaman yang lebih tinggi akibat kenaikan yield obligasi dapat menjadi tantangan baru bagi pemerintah Jepang dalam mengelola defisit fiskal.
Pasar dalam Mode Waspada
Secara keseluruhan, bursa Asia berada dalam fase kehati-hatian tinggi. Kombinasi antara lonjakan yield obligasi Jepang, ketegangan perdagangan global, dan ketidakpastian politik menciptakan lingkungan yang penuh risiko bagi investor.
Dalam jangka pendek, volatilitas kemungkinan tetap tinggi. Investor akan terus memantau perkembangan kebijakan moneter Jepang, hasil pemilu sela, serta arah kebijakan perdagangan AS terhadap Eropa. Di tengah kondisi ini, strategi defensif dan manajemen risiko menjadi kunci bagi pelaku pasar.