Bank of Japan (BoJ) menahan suku bunga kebijakan di 1,25% pada 30 Oktober 2026 melalui voting 8–1, dengan anggota dewan Hajime Takata mengusulkan kenaikan ke 1,5%. BoJ juga menaikkan proyeksi inflasi inti tahun anggaran 2027 menjadi 2,6% dari 2,4%, dan memutuskan mempercepat penjualan ETF menjadi sekitar ¥860 miliar per tahun mulai Januari 2027. Yen menguat ke sekitar 157,1 per dolar AS setelah keputusan, karena pasar membaca sinyal bahwa kenaikan suku bunga berikutnya semakin dekat.

Apa Isi Keputusan Bank of Japan?
BoJ mempertahankan suku bunga jangka pendek di 1,25%. Dalam Laporan Prospek (Outlook Report), BoJ menilai inflasi dasar sudah secara umum sejalan dengan target 2%. Satu anggota dewan, Hajime Takata, berbeda pendapat dan mengusulkan kenaikan suku bunga ke 1,5%. Perbedaan suara ini memperkuat ekspektasi bahwa BoJ dapat menaikkan suku bunga pada rapat Desember.
Bagaimana Proyeksi Ekonomi Terbaru BoJ?
| Indikator (median) | TA2026 | TA2027 | TA2028 |
|---|---|---|---|
| PDB riil | 0,7% (dari 0,6%) | 0,7% (dari 0,8%) | 0,8% |
| Inflasi inti (tanpa makanan segar) | 2,5% | 2,6% (dari 2,4%) | 2,0% |
| Inflasi inti-inti (tanpa makanan segar & energi) | 2,4% (dari 2,5%) | 2,7% (dari 2,6%) | 2,3% (dari 2,2%) |
Proyeksi ini belum memasukkan usulan pemangkasan pajak konsumsi untuk makanan dan minuman yang sedang dibahas pemerintah Jepang.
Apa Arti Percepatan Penjualan ETF?

Selama bertahun-tahun, BoJ membeli dana investasi yang diperdagangkan di bursa (ETF) saham Jepang sebagai bagian dari kebijakan pelonggaran. Kini BoJ melepasnya secara bertahap. Dengan keputusan bulat, penjualan ETF dinaikkan dari sekitar ¥330 miliar menjadi sekitar ¥860 miliar per tahun mulai Januari 2027. Perkiraan masa pelepasan seluruh ETF pun turun dari sekitar 112 tahun menjadi sekitar 43 tahun. Langkah ini menandakan normalisasi kebijakan berjalan lebih cepat, meski jumlahnya masih kecil dibanding nilai pasar saham Jepang.
Bagaimana Reaksi Yen?
Yen menguat setelah keputusan, dengan USD/JPY turun ke sekitar 157,1 dari sekitar 159 sebelum keputusan. Sepanjang Oktober, yen relatif datar terhadap dolar AS. Penguatan yen juga didukung turunnya yield obligasi AS 10 tahun ke sekitar 4,9%, terendah dalam lebih dari sebulan. Peran yen sebagai aset aman dibahas di emas, yen, dan dolar sebagai aset safe haven.
Mengapa BoJ Belum Menaikkan Suku Bunga?
BoJ cenderung bergerak hati-hati karena pertumbuhan ekonomi Jepang masih rendah, sekitar 0,7% per tahun, dan ada ketidakpastian dari kebijakan fiskal pemerintah serta kondisi global. Bank sentral juga ingin memastikan kenaikan upah berlanjut sehingga inflasi tidak hanya didorong harga energi dan impor.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
- Kurs yen terhadap rupiah: jika BoJ menaikkan suku bunga dan yen menguat, biaya wisata, pendidikan, dan impor barang dari Jepang menjadi lebih mahal dalam rupiah.
- Carry trade: banyak investor global meminjam yen berbunga rendah untuk berinvestasi di aset berimbal hasil tinggi. Kenaikan suku bunga Jepang dapat memicu penarikan dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
- Utang dalam yen: pemerintah dan sebagian korporasi Indonesia memiliki pinjaman dalam yen, sehingga penguatan yen menambah beban pembayaran dalam rupiah.
Pekan bank sentral ini juga diwarnai keputusan ECB menahan suku bunga 2,5% dan data PDB AS kuartal III 3,4%.
Apa yang Perlu Dipantau Selanjutnya?
- Data upah dan inflasi Tokyo yang menjadi indikator awal inflasi nasional.
- Pernyataan Gubernur BoJ dan anggota dewan menjelang rapat Desember.
- Pergerakan USD/JPY di sekitar 157–160, yang sebelumnya menjadi area perhatian otoritas Jepang.
Bagaimana Dampaknya bagi Wisatawan dan Pelajar ke Jepang?
Dengan USD/JPY di sekitar 157 dan rupiah di sekitar Rp18.137 per dolar AS, kurs yen terhadap rupiah berada di kisaran Rp115 per yen. Jika BoJ menaikkan suku bunga pada Desember dan yen menguat, biaya hidup dan kuliah di Jepang dalam rupiah bisa naik. Wisatawan yang berencana berangkat dalam beberapa bulan ke depan dapat mempertimbangkan membeli yen secara bertahap untuk meratakan kurs.
Bagaimana Siklus Kebijakan BoJ Sejauh Ini?
BoJ mengakhiri era suku bunga negatif pada 2024 dan sejak itu menaikkan suku bunga secara bertahap. Suku bunga 1,25% saat ini masih jauh di bawah bank sentral besar lain, seperti The Fed di 3,75–4,00% dan ECB di 2,5%. Selisih yang lebar inilah yang membuat yen cenderung lemah dan carry trade tetap menarik.
Pernyataan dan laporan resmi BoJ dapat dibaca di situs Bank of Japan, sedangkan jadwal bank sentral lain dapat dibandingkan di Federal Reserve.
Artikel ini disusun dari data dan pemberitaan per 30 Oktober 2026 dan bersifat informasi, bukan rekomendasi keuangan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan Bank of Japan bisa menaikkan suku bunga lagi?
Pasar memperkirakan peluang kenaikan pada rapat Desember 2026, didukung perbedaan suara dalam voting dan proyeksi inflasi yang dinaikkan, tetapi BoJ belum memberi kepastian.
Berapa suku bunga Bank of Japan setelah 30 Oktober 2026?
Suku bunga kebijakan BoJ tetap 1,25%, diputuskan melalui voting 8–1.
Siapa anggota BoJ yang meminta kenaikan suku bunga?
Hajime Takata, yang mengusulkan kenaikan ke 1,5%.
Berapa proyeksi inflasi BoJ terbaru?
Inflasi inti diproyeksikan 2,5% pada TA2026, 2,6% pada TA2027 (naik dari 2,4%), dan 2,0% pada TA2028.
Apa itu percepatan penjualan ETF oleh BoJ?
BoJ menaikkan penjualan ETF dari sekitar ¥330 miliar menjadi ¥860 miliar per tahun mulai Januari 2027, sehingga masa pelepasan turun dari sekitar 112 tahun menjadi 43 tahun.


