GBP/USD naik tipis 0,1 persen pada perdagangan Jumat ke level 1,3326, dengan pasar obligasi pemerintah Inggris (Gilt) terjepit di antara risiko fiskal dari rencana debut Perdana Menteri Andy Burnham dan guncangan harga minyak. Sebuah jajak pendapat Bloomberg serta pandangan ekonom United Overseas Bank (UOB), Lee Sue Ann, sama-sama memprakirakan Bank of England (BoE) akan mempertahankan suku bunga di level 3,75 persen, dengan risiko kenaikan tambahan yang moderat, namun tanpa langkah dalam waktu dekat mengingat permintaan domestik yang lebih lemah dan pasar tenaga kerja yang melonggar.
Konsensus Bulat: BoE Diprakirakan Tahan Suku Bunga
Berdasarkan jajak pendapat Bloomberg terhadap tujuh analis per 25 Juli, seluruh responden secara bulat memprakirakan BoE akan mempertahankan suku bunga tidak berubah di 3,75 persen. Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi ekonom UOB, Lee Sue Ann, yang turut memprakirakan BoE akan menahan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan Juli.
Risiko Kenaikan Masih Ada, Namun Belum Waktunya Bertindak
UOB menilai risiko kebijakan BoE masih sedikit condong ke arah pengetatan lebih lanjut, namun langkah tersebut kemungkinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat, kecuali muncul guncangan kenaikan baru pada harga energi. Volatilitas harga energi serta inflasi sektor jasa yang masih tinggi dinilai terus menimbulkan risiko kenaikan ke depan, sementara munculnya dissent kedua dalam pemungutan suara turut menyoroti meningkatnya ketidaknyamanan di internal Monetary Policy Committee (MPC).
Baca juga, Dolar Australia Melemah ke 0,7000 Seiring Gangguan Pasokan Energi Global Berlanjut
Permintaan Domestik yang Lemah Jadi Alasan BoE Menahan Diri
Meski demikian, UOB menilai permintaan domestik yang lebih lemah, ditambah kondisi pasar tenaga kerja yang secara bertahap melonggar, semestinya membuat BoE tetap menahan suku bunga untuk saat ini, alih-alih tergesa mengambil langkah pengetatan tambahan di tengah risiko yang masih bersifat dua arah.
