Rupiah Indonesia (IDR) melemah terhadap Dolar AS (USD) pada perdagangan Selasa dan ditutup di Rp17.850, setelah pasar domestik kembali beraktivitas usai libur Hari Kemerdekaan pada Senin. Pasangan mata uang USD/IDR menguat 30 poin dari penutupan pasar domestik Jumat di Rp17.820, seiring kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang membebani Rupiah.
Tekanan tersebut berlangsung meski Dolar AS hanya menguat terbatas, karena pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia ditetapkan di Rp17.856 per Dolar AS pada Selasa, naik 20 poin dari Rp17.836 pada Jumat.
Dari dalam negeri, pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18โ19 Agustus, sementara data yang dirilis Selasa menunjukkan utang luar negeri (ULN) Indonesia tumbuh pada kuartal II 2026.
Minyak dan Imbal Hasil Treasury AS Membebani Rupiah
Harga minyak melanjutkan kenaikan setelah prospek tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah kembali meredup. Iran menyatakan akan beralih ke sikap militer yang lebih ofensif setelah upaya mencapai kesepakatan permanen tersendat, sementara Amerika Serikat menolak memperpanjang gencatan senjata sementara. Kondisi ini kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi, terutama ketika aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas.
Pada sekitar pukul 15.15 WIB, harga minyak WTI naik 0,97% ke US$85,32 per barel, sedangkan Brent menguat 0,52% ke US$91,34 per barel.
Tekanan eksternal turut datang dari pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,74%, sementara tenor 30 tahun mencapai 5,32%, mendekati level tertinggi sejak 2007. Kenaikan imbal hasil ini berlangsung di tengah kekhawatiran bahwa harga minyak yang tinggi dapat menambah tekanan inflasi, disertai perhatian pasar terhadap belanja fiskal dan meningkatnya penerbitan utang AS.
Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak terbatas di sekitar 99,6. Pasar juga memangkas peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September berdasarkan CME FedWatch Tool menjadi sekitar 36,6%, turun dari sekitar 48,4% sepekan sebelumnya, sehingga turut membatasi penguatan Dolar AS.
ULN Indonesia Tumbuh 4,4% pada Kuartal II
Di dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$453,4 miliar pada kuartal II 2026, tumbuh 4,4% secara tahunan. Kenaikan ini terutama berasal dari ULN sektor publik, sementara ULN swasta masih terkontraksi.
ULN pemerintah tercatat sebesar US$216,3 miliar, tumbuh 2,9%, sedangkan ULN swasta sebesar US$194,6 miliar atau terkontraksi 0,6%. BI menyebut peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan nonresiden pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Secara keseluruhan, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 30,6%, sementara utang jangka panjang mencapai 82,1% dari total ULN.
Baca juga, Saham WIFI Melonjak 10% ke 2.170, Tertinggi Bulanan Agustus: Analisis di Balik Kenaikan
Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga BI
Perhatian pasar berikutnya tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan Rabu. Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman (BBH) memperkirakan BI akan mempertahankan BI-Rate di 5,75% untuk pertemuan kedua berturut-turut, setelah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sejak Mei.
Meredanya tekanan terhadap Rupiah dan inflasi yang masih berada dalam kisaran sasaran BI dinilai memberi ruang bagi bank sentral untuk kembali menahan kebijakan.
โBI dapat menahan diri setelah memberikan pengetatan sebesar 100 basis poin sejak Mei,โ ujar Haddad. Ia menambahkan bahwa pelemahan Rupiah telah mereda dan inflasi tetap berada dalam kisaran target BI 1,5โ3,5%.
Pertemuan pekan ini juga menjadi RDG pertama di bawah kepemimpinan sementara Destry Damayanti, yang saat ini menjabat Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia. Dengan harga minyak dan imbal hasil Treasury AS yang masih tinggi, perhatian pasar akan tertuju pada sinyal BI terkait stabilitas nilai tukar setelah keputusan suku bunga diumumkan.
