IHSG naik 0,79% ke 5.096,83 pada 2 November 2026, hari pertama BEI mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan indeks, lalu turun sekitar 2,01% ke 4.994,43 pada pukul 11.02 WIB, 3 November. Indeks kembali ke bawah level psikologis 5.000.
Pada 3 November, IHSG sempat dibuka menguat ke 5.126,53 dan menyentuh 5.143,58 sebelum berbalik turun tajam. Tekanan datang dari sektor infrastruktur, bahan baku, dan energi.

Bagaimana Perdagangan 2 November?
| Indikator | Data 2 Nov 2026 |
|---|---|
| Penutupan | 5.096,83 (+39,78 poin) |
| Nilai transaksi | sekitar Rp12,4 triliun |
| Volume | sekitar 35,3 miliar saham |
| Frekuensi | sekitar 1,45 juta kali |
| Naik / turun / tetap | 315 / 285 / 118 |
Tujuh sektor naik, dipimpin bahan baku (+2,12%), energi (+1,53%), dan infrastruktur (+1,40%). Empat sektor turun, dengan kesehatan terlemah (−0,64%). Saham dengan kenaikan terbesar antara lain DFAM, MKNT, dan ROCK.
Bagaimana Arus Dana Asing?

Asing mencatat jual bersih Rp112,47 miliar di seluruh pasar pada 2 November, terdiri dari jual bersih Rp375,54 miliar di pasar reguler dan beli bersih Rp263,07 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Saham yang paling banyak dibeli asing antara lain TPIA (Rp47,65 miliar), BUMI (Rp46,75 miliar), PTRO (Rp38,87 miliar), BRMS (Rp32,15 miliar), dan BBRI (Rp31,40 miliar). Penjelasan istilah net buy dan net sell ada di IHSG naik 4,9% sepekan, asing net sell.
Mengapa IHSG Turun pada 3 November?
Pada sesi I 3 November, sektor infrastruktur turun 3,1%, bahan baku 2,8%, dan energi 2,7%. Saham penekan utama antara lain TLKM, BBRI, ASII, BRPT, dan BRMS. Beberapa faktor berperan: harga minyak yang anjlok sekitar 7% menekan saham energi, bursa Korea Selatan turun sekitar 3,7%, dan investor bersikap hati-hati menjelang hasil pemilu sela AS. Setelah reli di sektor bahan baku dan energi pada 2 November, sebagian investor juga mengambil keuntungan.
Apa Arti Level 5.000?
Level 5.000 adalah angka psikologis yang diperhatikan banyak pelaku pasar. IHSG sudah berada di sekitar level ini sejak akhir Oktober setelah turun 16,7% sepanjang bulan. Penurunan di bawah 5.000 bisa memicu kekhawatiran lanjutan, tetapi juga menarik minat investor jangka panjang yang menilai valuasi sudah murah. Rekap Oktober dibahas di IHSG ditutup 5.057, turun 16,7% sepanjang Oktober 2026.
Bagaimana Pengaruh Pengecualian Saham HSC?
Mulai 2 November, saham HSC tidak lagi dihitung dalam IHSG. Kebijakan ini membuat indeks lebih mencerminkan saham yang likuid, tetapi tidak mengubah nilai perusahaan. Pergerakan IHSG ke depan tetap ditentukan oleh fundamental emiten, arus dana asing, dan sentimen global.
Bagaimana Bursa Global Bergerak?
Pada 2 November, Dow Jones naik 0,41% ke 51.983,98, S&P 500 turun 0,51% ke 7.541,40, dan Nasdaq turun 1,07% ke sekitar 25.164. Saham teknologi kembali tertekan, termasuk Oracle yang turun setelah rencana penerbitan saham dan obligasi masing-masing US$10 miliar. Di Asia, bursa Shanghai naik 1,08% pada 2 November, tetapi KOSPI turun tajam pada 3 November.
Apa Faktor yang Perlu Dipantau?
- Hasil pemilu sela AS yang mulai terlihat Rabu pagi WIB.
- Arus dana asing harian, terutama di saham bank besar.
- Harga minyak dan batu bara yang memengaruhi saham energi.
- Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan dan data ekonomi domestik.
- Perkembangan konsultasi MSCI.
Saham Apa yang Bergerak Signifikan?
Pada 2 November, saham bahan baku dan energi memimpin kenaikan, didorong pembelian asing pada TPIA, BUMI, dan BRMS. Namun, pada 3 November, sebagian saham tersebut justru menjadi penekan indeks seiring anjloknya harga minyak. Pola naik-turun cepat ini menunjukkan pasar masih sangat sensitif terhadap kabar komoditas dan arus dana asing. Saham bank besar seperti BBRI juga menjadi penekan, meski sempat dibeli asing sehari sebelumnya.
Bagaimana Hubungannya dengan Rupiah?
Rupiah ditutup melemah tipis ke Rp18.156 per dolar pada 2 November, lalu dibuka menguat ke Rp18.149 pada 3 November. Rupiah yang stabil membantu mengurangi tekanan pada saham, tetapi arus keluar dana asing tetap menjadi risiko. Penurunan harga minyak berpotensi membantu rupiah dalam jangka menengah karena mengurangi kebutuhan dolar untuk impor energi. Pembahasan rupiah sebelumnya ada di rupiah dibuka Rp18.084 pada 26 Oktober.
Bagaimana Investor Ritel Menyikapinya?
Volatilitas tinggi di sekitar level 5.000 membuat keputusan terburu-buru berisiko. Investor jangka panjang dapat mempertimbangkan pembelian bertahap pada saham berfundamental kuat, sementara trader jangka pendek perlu disiplin dengan batas risiko. Hindari memakai dana darurat untuk membeli saham saat pasar bergejolak.
Data resmi tersedia di Bursa Efek Indonesia dan pengawasan pasar modal di OJK.
Artikel ini bersifat informasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual aset tertentu. Data dapat berubah mengikuti pergerakan pasar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa IHSG turun pada 3 November meski naik sehari sebelumnya?
Karena tekanan saham energi saat minyak anjlok, penurunan bursa Asia, aksi ambil untung, dan kehati-hatian menjelang pemilu AS.
Berapa IHSG pada 2 November 2026?
Ditutup naik 0,79% ke 5.096,83.
Berapa IHSG pada sesi I 3 November 2026?
Sekitar 4.994,43 pada pukul 11.02 WIB, turun 2,01%.
Sektor apa yang paling menekan IHSG pada 3 November?
Infrastruktur (−3,1%), bahan baku (−2,8%), dan energi (−2,7%).
Berapa jual bersih asing pada 2 November?
Rp112,47 miliar di seluruh pasar.
Saham apa yang paling banyak dibeli asing pada 2 November?
Antara lain TPIA, BUMI, PTRO, BRMS, dan BBRI.


