Harga minyak WTI naik sekitar 15,2% dan Brent sekitar 13,6% sepanjang Oktober 2026, didorong risiko pasokan dari konflik Iran dan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Pada 30 Oktober, WTI ditutup di US$104,12 per barel dan Brent kontrak Januari di US$113,43, sementara kontrak Desember yang jatuh tempo ditutup US$117,64.
Namun, pada sesi Asia Senin, 2 November, Brent turun sekitar 2,7% ke kisaran US$110 dan WTI ke sekitar US$100,8 setelah muncul sinyal bahwa Washington lebih memilih jalur diplomasi dengan Iran.

Apa yang Mendorong Kenaikan Oktober?
- Serangan di Selat Hormuz: sebuah kapal tanker terkena ranjau tempel (limpet mine), disebut sebagai serangan ranjau tempel pertama yang berhasil di selat itu sejak perang dimulai pada Februari.
- Klaim serangan Houthi terhadap fasilitas minyak Saudi di Ras Tanura, Rabigh, dan Abqaiq.
- Kekhawatiran eskalasi setelah pemilu sela AS pada 3 November.
- Gangguan pasokan lain, seperti penutupan katup pipa Hamada di Libya sekitar 15.000 barel per hari.
Pembahasan kenaikan minyak di pertengahan bulan ada di harga minyak Brent naik 11% di Oktober 2026.
Mengapa Minyak Turun Senin Pagi?

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Presiden Trump lebih memilih penyelesaian diplomatik dengan Iran. Mediator Qatar juga melanjutkan pembicaraan dengan Teheran. Harapan diplomasi mengurangi premi risiko, sehingga minyak turun. Meski begitu, Trump juga memperingatkan kemungkinan serangan setelah pemilu, dan Iran mengancam membalas, sehingga risiko belum hilang. Pasar kemungkinan tetap bereaksi cepat terhadap setiap pernyataan dari Washington maupun Teheran sepanjang pekan pemilu sela AS. Volatilitas tinggi ini juga tercermin pada saham energi dan mata uang negara pengimpor minyak, termasuk rupiah. Bagi rumah tangga, perubahan harga minyak biasanya terasa beberapa minggu kemudian melalui ongkos angkutan dan harga barang.
Apa Keputusan OPEC+?
OPEC+ mempertahankan target produksi tidak berubah hingga Desember. Keputusan ini berarti tidak ada tambahan pasokan besar dari kelompok produsen untuk meredam harga dalam jangka pendek. Ekspor minyak Arab Saudi dilaporkan naik pada Oktober, tetapi belum cukup menenangkan pasar.
Bagaimana Proyeksi Analis?
| Lembaga | Pandangan |
|---|---|
| Goldman Sachs | Proyeksi Brent Desember 2026 dinaikkan ke US$105 dari US$90 |
| Saxo Bank | Minyak bisa di kisaran US$70–90 setelah konflik berakhir |
Proyeksi ini sangat bergantung pada perkembangan konflik dan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
- Biaya impor energi naik: neraca migas September defisit US$2,31 miliar, terutama dari hasil minyak dan minyak mentah.
- Tekanan pada rupiah: kebutuhan dolar untuk impor minyak menambah tekanan pada kurs, yang dibuka di Rp18.149 per dolar AS pada 2 November.
- Inflasi: kelompok transportasi naik 4,87% secara tahunan pada Oktober.
- Harga BBM nonsubsidi: Pertamina menahan harga Pertamax di Rp15.950 per liter pada 1 November, tetapi harga ke depan tetap bergantung pada minyak dunia dan kurs.
- Saham energi: saham seperti PGAS dan PTBA menguat di tengah penurunan IHSG.
Apa Hubungannya dengan Inflasi dan Suku Bunga Global?
Minyak yang mahal menambah tekanan inflasi di banyak negara. ECB menyebut energi sebagai risiko kenaikan inflasi, dan inflasi PCE AS naik ke 3,6%. Hal ini memperbesar peluang kenaikan suku bunga, yang ikut menekan emas dan pasar saham. Pengaruh yield obligasi AS terhadap pasar dijelaskan di yield US Treasury 10 tahun 4,98%.
Bagaimana Dampaknya ke Harga BBM?
Pertamina menahan harga BBM nonsubsidi pada 1 November, dengan Pertamax tetap Rp15.950 per liter. Namun, jika minyak bertahan di atas US$100 dan rupiah tetap lemah, tekanan penyesuaian harga pada Desember bisa meningkat. Konsumen dapat menyiapkan anggaran transportasi dengan cadangan, seperti dijelaskan di harga BBM November 2026 dan anggaran bensin. Pelaku usaha logistik juga perlu memantau biaya bahan bakar karena berpengaruh langsung pada tarif pengiriman.
Apa yang Perlu Dipantau Pekan Ini?
- Hasil pemilu sela AS dan pernyataan pemerintah AS tentang Iran.
- Kelanjutan pembicaraan yang dimediasi Qatar.
- Laporan persediaan minyak AS dari EIA pada Rabu, sekitar 22.30 WIB setelah AS kembali ke waktu standar.
- Insiden pelayaran di Selat Hormuz.
Apa Artinya bagi Konsumen dan Investor?
Konsumen perlu menyiapkan ruang anggaran untuk kemungkinan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan biaya transportasi. Investor perlu menyadari bahwa harga minyak bisa bergerak lebih dari 2% dalam sehari hanya karena satu pernyataan politik, sehingga keputusan investasi sebaiknya tidak didasarkan pada satu berita. Diversifikasi dan ukuran posisi yang wajar membantu mengurangi dampak gejolak harga energi terhadap portofolio.
Data persediaan dan harga minyak tersedia di U.S. Energy Information Administration, dan informasi produsen di OPEC.
Artikel ini bersifat informasi, bukan rekomendasi investasi atau transaksi. Harga aset dapat berubah cepat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa proyeksi Brent menurut Goldman Sachs?
Goldman Sachs menaikkan proyeksi Brent Desember 2026 ke US$105 per barel dari US$90.
Berapa kenaikan harga minyak sepanjang Oktober 2026?
WTI naik sekitar 15,2% dan Brent sekitar 13,6%.
Berapa harga WTI pada penutupan 30 Oktober 2026?
Sekitar US$104,12 per barel.
Mengapa harga minyak turun pada 2 November?
Karena sinyal dari pemerintah AS yang lebih memilih penyelesaian diplomatik dengan Iran dan berlanjutnya mediasi Qatar.
Apa keputusan OPEC+ terbaru?
OPEC+ mempertahankan target produksi tidak berubah hingga Desember.
Apa dampak harga minyak tinggi bagi Indonesia?
Menambah defisit migas, menekan rupiah, mendorong inflasi transportasi, dan memengaruhi harga BBM nonsubsidi.


