Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia September 2026 surplus US$3,36 miliar, sedikit turun dari US$3,55 miliar pada Agustus. Surplus ditopang komoditas nonmigas sebesar US$5,67 miliar, terutama lemak dan minyak hewani/nabati termasuk CPO, bahan bakar mineral seperti batu bara, serta besi dan baja. Sebaliknya, neraca migas defisit US$2,31 miliar akibat impor hasil minyak dan minyak mentah. Secara kumulatif Januari–September 2026, surplus mencapai US$10,61 miliar.

Apa Angka Utama Neraca Perdagangan?
| Indikator | September 2026 | Januari–September 2026 |
|---|---|---|
| Neraca total | Surplus US$3,36 miliar | Surplus US$10,61 miliar |
| Nonmigas | Surplus US$5,67 miliar | Surplus US$34,21 miliar |
| Migas | Defisit US$2,31 miliar | Defisit US$23,60 miliar |
Sebagai pembanding, surplus Agustus 2026 tercatat US$3,55 miliar.
Komoditas Apa yang Menopang Surplus?
- Lemak dan minyak hewani/nabati, termasuk CPO, yang secara kumulatif menyumbang surplus sekitar US$29,31 miliar.
- Bahan bakar mineral, terutama batu bara.
- Besi dan baja, yang terkait hilirisasi mineral.
Kenaikan harga energi global turut membantu nilai ekspor batu bara, tetapi juga memperbesar biaya impor migas.
Mengapa Defisit Migas Besar?
Indonesia adalah pengimpor bersih minyak. Ketika harga minyak naik tajam, seperti WTI yang naik sekitar 15,2% dan Brent 13,6% pada Oktober, nilai impor migas meningkat. Defisit migas kumulatif US$23,60 miliar menunjukkan beban energi yang besar bagi neraca perdagangan. Pembahasan harga minyak terbaru ada di minyak WTI naik 15% di Oktober.
Bagaimana Tren Surplus Sepanjang 2026?
Surplus kumulatif US$10,61 miliar dalam sembilan bulan menunjukkan Indonesia masih mencatat surplus secara konsisten, meski dengan nilai yang berfluktuasi setiap bulan. Pada periode Januari–Agustus, surplus kumulatif sekitar US$7,25 miliar, sehingga September menambah lebih dari US$3 miliar. Kekuatan utama tetap ada pada ekspor berbasis komoditas, sementara impor migas menjadi faktor pengurang terbesar. Jika harga minyak turun karena kemajuan diplomasi, defisit migas berpotensi menyempit dan surplus total bisa membesar pada bulan-bulan berikutnya.
Siapa Mitra Dagang Utama?

Indonesia mencatat surplus terbesar dengan Amerika Serikat (US$14,26 miliar), India (US$10,59 miliar), dan Filipina (US$6,48 miliar). Defisit terbesar terjadi dengan Tiongkok (US$21,20 miliar), Singapura (US$7,03 miliar), dan Australia (US$5,78 miliar). Defisit dengan Tiongkok terutama terkait impor barang modal dan bahan baku industri.
Apa Dampaknya bagi Rupiah?
Surplus perdagangan menambah pasokan valas dari ekspor, yang mendukung rupiah. Namun, surplus yang sedikit menurun dan defisit migas yang besar membatasi dukungan tersebut. Rupiah tetap di sekitar Rp18.149 per dolar AS pada 2 November karena faktor global seperti suku bunga AS dan arus dana asing lebih dominan. Analis sebelumnya memperkirakan surplus sekitar US$1,9 miliar, sehingga angka aktual jauh lebih baik dari perkiraan.
Bagaimana Kaitannya dengan PMI dan Inflasi?
Pada hari yang sama, data menunjukkan PMI manufaktur Oktober naik ke 54 dengan pesanan ekspor tumbuh tercepat sejak 2011, sehingga ekspor manufaktur berpotensi terus kuat. Rincian PMI ada di PMI manufaktur Indonesia Oktober 2026 naik ke 54. Inflasi Oktober 3,23% masih dalam sasaran, memberi ruang bagi kebijakan untuk fokus pada stabilitas rupiah.
Bagaimana Hubungannya dengan Inflasi?
Impor migas yang mahal dapat mendorong biaya transportasi dan produksi. Inflasi Oktober menunjukkan kelompok transportasi naik 4,87% secara tahunan. Rincian inflasi terbaru dibahas di inflasi Oktober 2026 3,23%.
Apa Artinya bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha?
- Eksportir CPO dan batu bara diuntungkan harga komoditas dan kurs.
- Importir bahan baku menghadapi biaya lebih tinggi akibat rupiah lemah.
- Konsumen bisa merasakan dampak melalui harga barang impor dan energi.
- Anggaran negara terdampak melalui subsidi energi jika harga minyak tetap tinggi; realisasi APBN dibahas di realisasi APBN September 2026.
Mengapa Surplus Lebih Besar dari Perkiraan?
Sebelum rilis, analis memperkirakan surplus sekitar US$1,9 miliar. Angka aktual US$3,36 miliar jauh lebih tinggi, terutama karena surplus nonmigas yang kuat. Harga komoditas ekspor utama dan rupiah yang lemah ikut menaikkan nilai ekspor dalam dolar. Kejutan positif ini membantu menahan pelemahan rupiah, meski efeknya terbatas dibanding faktor global. Bagi pembuat kebijakan, surplus yang bertahan memberi bantalan bagi cadangan devisa, yang penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah arus keluar dana asing dari pasar saham.
Apa yang Perlu Dipantau?
- Harga CPO dan batu bara global.
- Harga minyak dan konflik di Timur Tengah.
- Pergerakan rupiah dan arus dana asing.
- Data neraca perdagangan Oktober yang akan dirilis pertengahan November.
- Perkembangan kebijakan dagang negara mitra utama seperti Amerika Serikat, India, dan Tiongkok, yang dapat memengaruhi permintaan ekspor Indonesia.
Data resmi tersedia di Badan Pusat Statistik, dan statistik perdagangan di Kementerian Perdagangan.
Artikel ini bersifat informasi, bukan rekomendasi investasi atau transaksi. Harga aset dapat berubah cepat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa surplus nonmigas September 2026?
US$5,67 miliar.
Berapa surplus neraca perdagangan September 2026?
US$3,36 miliar, turun dari US$3,55 miliar pada Agustus.
Berapa defisit migas September 2026?
US$2,31 miliar, terutama dari impor hasil minyak dan minyak mentah.
Komoditas apa yang menopang surplus?
Lemak dan minyak hewani/nabati termasuk CPO, bahan bakar mineral seperti batu bara, serta besi dan baja.
Berapa surplus kumulatif Januari–September 2026?
US$10,61 miliar.
Dengan negara mana Indonesia mencatat defisit terbesar?
Tiongkok, dengan defisit sekitar US$21,20 miliar.


