Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23% secara tahunan (year on year) dan 0,22% secara bulanan, sedikit melambat dari 3,28% pada September dan di bawah perkiraan analis sekitar 3,3%. Indeks harga konsumen naik dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 4,82% dan andil 1,40 poin persentase, didorong terutama oleh cabai merah.

Apa Saja Angka Utama Inflasi Oktober?
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Inflasi tahunan | 3,23% |
| Inflasi bulanan | 0,22% |
| Inflasi tahunan September | 3,28% |
| IHK Oktober 2025 | 109,04 |
| IHK Oktober 2026 | 112,56 |
Inflasi tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia 2,5% ± 1%.
Kelompok Apa yang Menyumbang Paling Besar?

- Makanan, minuman, dan tembakau: inflasi 4,82%, andil 1,40 poin. Komoditas pendorong antara lain cabai merah, ikan segar, beras, minyak goreng, sigaret kretek mesin, daging ayam ras, dan daging sapi.
- Transportasi: inflasi 4,87%, andil 0,59 poin, didorong bensin, tarif angkutan udara, oli, sepeda motor, servis kendaraan, dan mobil.
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya: inflasi 4,52%, andil 0,32 poin.
Mengapa Cabai Merah Menjadi Sorotan?
Cabai merah termasuk komoditas bergejolak yang harganya mudah naik karena faktor cuaca dan pasokan. Meski porsinya kecil dalam keranjang belanja, kenaikan harga cabai yang tajam dapat memberi andil besar pada inflasi bulanan. Menjelang musim hujan dan akhir tahun, pemerintah biasanya memperkuat pemantauan pasokan bahan pangan strategis, termasuk melalui operasi pasar dan distribusi antardaerah. Masyarakat dapat memantau harga harian bahan pangan strategis melalui panel harga resmi untuk merencanakan belanja. Dengan memantau harga secara rutin, rumah tangga bisa memilih waktu dan tempat belanja yang lebih hemat, serta mengganti bahan yang sedang mahal dengan alternatif bergizi yang harganya stabil.
Apa Arti Data Ini bagi Bank Indonesia?
Inflasi yang masih dalam sasaran memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak terburu-buru menaikkan BI-Rate. Namun, BI tetap menghadapi tekanan dari pelemahan rupiah. Pada RDG Oktober, BI menahan BI-Rate di 5,75% tetapi menaikkan deposit facility ke 5%. RDG berikutnya dijadwalkan 17–18 November 2026. Pembahasan dampaknya ke simpanan dan kredit ada di deposit facility BI naik ke 5%.
Bagaimana Dampaknya ke Masyarakat?
- Belanja dapur naik lebih cepat dari inflasi umum karena inflasi makanan 4,82%. Cara menyusun anggarannya ada di anggaran belanja dapur saat inflasi pangan.
- Biaya transportasi naik 4,87%, meski harga BBM nonsubsidi ditahan pada 1 November.
- Kenaikan gaji riil: jika gaji naik 5%, kenaikan riil hanya sekitar 1,7% setelah dikurangi inflasi 3,23%.
Bagaimana Pasar Merespons?
Rupiah dibuka di Rp18.149 per dolar AS pada pagi hari, relatif stabil. Data yang sedikit di bawah perkiraan tidak banyak mengubah sentimen, karena pasar lebih fokus pada faktor global seperti suku bunga AS dan harga minyak. Pada hari yang sama, BPS juga merilis neraca perdagangan September yang surplus US$3,36 miliar, sementara S&P Global melaporkan PMI manufaktur Oktober naik ke 54.
Bagaimana Inflasi Inti dan Harga yang Diatur Pemerintah?
Selain inflasi umum, analis biasanya memperhatikan inflasi inti yang tidak memasukkan komponen bergejolak seperti pangan segar dan harga yang diatur pemerintah seperti BBM bersubsidi. Inflasi inti mencerminkan tekanan permintaan dan biaya yang lebih persisten. Jika inflasi inti tetap terkendali, kenaikan inflasi umum akibat cabai biasanya bersifat sementara. Sebaliknya, jika inflasi inti naik, tekanan harga bisa bertahan lebih lama dan memengaruhi keputusan suku bunga Bank Indonesia.
Apa yang Perlu Dipantau ke Depan?
- Harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru.
- Harga BBM nonsubsidi pada awal Desember.
- Kurs rupiah, yang memengaruhi harga barang impor.
- Keputusan BI pada 17–18 November.
Bagaimana Inflasi Dibanding Negara Lain?
Inflasi Indonesia 3,23% relatif moderat dibanding beberapa negara maju yang menghadapi tekanan energi. Inflasi zona euro September mencapai 3,8%, dan inflasi PCE AS September 3,6%. Inflasi Australia September 4,3% mendorong pasar memperkirakan kenaikan suku bunga RBA pada 3 November. Perbandingan ini menunjukkan tekanan harga energi bersifat global, sehingga kebijakan bank sentral di banyak negara cenderung ketat. Bagi Indonesia, kondisi ini berarti tekanan terhadap rupiah dari suku bunga global masih akan berlanjut.
Bagaimana Perbandingan dengan Bulan Sebelumnya?
Inflasi bulanan September tercatat 0,30%, sedangkan Oktober 0,22%. Perlambatan bulanan ini memberi sedikit kelegaan, tetapi tekanan harga pangan dan energi masih perlu diwaspadai, terutama menjelang periode permintaan tinggi pada akhir tahun. Pembahasan kebijakan pembatasan Pertalite yang dapat memengaruhi inflasi ada di pembatasan Pertalite desil 9–10.
Rilis resmi tersedia di Badan Pusat Statistik, dan sasaran inflasi di Bank Indonesia.
Artikel ini bersifat informasi, bukan rekomendasi investasi atau transaksi. Harga aset dapat berubah cepat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Komoditas apa yang mendorong inflasi transportasi?
Antara lain bensin, tarif angkutan udara, oli, sepeda motor, servis kendaraan, dan mobil.
Berapa inflasi Oktober 2026?
3,23% secara tahunan dan 0,22% secara bulanan menurut BPS.
Apakah inflasi Oktober lebih tinggi dari September?
Tidak, inflasi tahunan sedikit melambat dari 3,28% pada September.
Kelompok apa penyumbang inflasi terbesar?
Makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 4,82% dan andil 1,40 poin persentase.
Apakah inflasi Oktober 2026 masih dalam sasaran BI?
Ya, masih dalam rentang 2,5% ± 1%.
Kapan RDG Bank Indonesia berikutnya?
17–18 November 2026.


