Terkini  
Market

IHSG Ditutup 5.057, Turun 16,7% Sepanjang Oktober 2026: Sektor dan Saham Penggerak

IHSG menutup Oktober dengan penurunan bulanan terdalam tahun ini. Ini rincian sektor, saham, dan arus dana asing di akhir bulan.

IHSG Ditutup 5.057, Turun 16,7% Sepanjang Oktober 2026: Sektor dan Saham Penggerak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,80% ke 5.057,05 pada Jumat, 30 Oktober 2026, sehingga sepanjang Oktober turun 16,70% dari 6.071,14 di akhir September dan sepekan turun 7,03%. Sejak awal tahun, IHSG sudah turun sekitar 41,52%. Pada hari terakhir Oktober, 523 saham melemah dan hanya 187 menguat, dengan investor asing mencatat jual bersih sekitar Rp140 miliar di seluruh pasar.

Fakta kunci: IHSG Ditutup 5.057, Turun 16,7% Sepanjang Oktober 2026: Sektor dan Saham Penggerak
Kinerja sektor saham pada 30 Oktober 2026.

Bagaimana Rincian Perdagangan 30 Oktober?

IndikatorAngka
Penutupan5.057,05 (−41,01 poin)
Volume37,62 miliar saham
Nilai transaksiRp11,65 triliun
Saham turun / naik / stagnan523 / 187 / 81
Asing (seluruh pasar)Jual bersih Rp140,27 miliar
Asing (pasar reguler)Jual bersih Rp172,43 miliar

Sektor Mana yang Paling Tertekan?

Sektor transportasi dan logistik turun paling dalam, 3,13%, disusul bahan baku 2,84% dan infrastruktur 1,96%. Sebaliknya, sektor kesehatan naik 0,76% dan keuangan naik tipis 0,16%. Penguatan sektor keuangan menarik karena saham bank besar justru menjadi sasaran jual asing terbesar.

Saham Apa yang Menjadi Penggerak?

Saham LQ45 dengan kenaikan dan penurunan terbesar pada 30 Oktober 2026
Saham LQ45 penggerak terbesar pada hari terakhir Oktober.
  • Penguat LQ45: PGAS naik 8,64%, PTBA 5,88%, dan EXCL 5,85%.
  • Pelemah LQ45: BRPT turun 6,96%, CUAN 6,83%, dan ISAT 6,83%.
  • Beli bersih asing terbesar: GOTO sekitar Rp54,5 miliar, BUMI Rp40,4 miliar, dan MDKA Rp39,5 miliar.
  • Jual bersih asing terbesar: BBRI sekitar Rp206,5 miliar, TLKM Rp119,5 miliar, dan AMMN Rp59,3 miliar.

Saham energi dan batu bara seperti PGAS dan PTBA mendapat dukungan dari harga energi global yang tinggi. Pergerakan IHSG beberapa hari sebelumnya dibahas di IHSG anjlok 1,99% ke 5.266.

Apa Penyebab Penurunan Sepanjang Oktober?

  1. Arus keluar dana asing sekitar Rp3 triliun dalam sepekan terakhir.
  2. Pelemahan rupiah sekitar 1,41% sepanjang Oktober ke Rp18.147 per dolar AS.
  3. Suku bunga global yang tinggi dan peluang kenaikan Fed pada Desember.
  4. Harga minyak tinggi akibat konflik Timur Tengah yang menekan sentimen.
  5. Aksi jual saham teknologi global di akhir bulan, yang menjalar ke bursa Asia.

Bagaimana Pembukaan Senin 2 November?

Bursa Asia dibuka melemah pada Senin pagi: KOSPI turun 1,6% dan indeks Topix turun 0,7%. Investor domestik menanti data inflasi, PMI manufaktur, dan neraca perdagangan yang dirilis hari yang sama. Data PMI manufaktur Oktober naik ke 54, tertinggi sejak Maret 2024, sementara inflasi 3,23% sedikit di bawah perkiraan.

Bagaimana Perbandingan dengan Pekan Sebelumnya?

Sepekan sebelumnya, IHSG sempat naik 4,9% ke 5.439, seperti dibahas di IHSG naik 4,9% sepekan. Kenaikan tersebut berbalik tajam dalam sepekan berikutnya, menunjukkan volatilitas pasar yang sangat tinggi. Pada kondisi seperti ini, pergerakan harian 2–3% bisa terjadi tanpa berita spesifik emiten.

Bagaimana Kondisi Bursa Global?

Pada 30 Oktober, S&P 500 turun 1,8% dan Nasdaq 2,9%, penurunan harian terburuk sejak Juni, setelah laporan keuangan beberapa perusahaan teknologi mengecewakan. Saham Intel anjlok hampir 29%. Di Eropa, indeks Stoxx 600 turun 0,4%. Sentimen negatif global ini ikut menekan bursa Asia pada pembukaan Senin, termasuk Bursa Efek Indonesia yang sangat sensitif terhadap arus dana asing.

Apa Agenda yang Perlu Dipantau?

  • Pemilu sela AS pada 3 November dan arah kebijakan fiskal AS.
  • Keputusan RBA pada 3 November dan Bank of England pada 5 November.
  • Data tenaga kerja AS pada 6 November.
  • RDG Bank Indonesia pada 17–18 November.
  • Laporan keuangan kuartal III emiten yang masih berjalan.

Apa Arti Arus Dana Asing bagi IHSG?

Investor asing memiliki porsi besar dalam kepemilikan saham berkapitalisasi besar seperti bank dan telekomunikasi. Ketika asing menjual dalam jumlah besar, harga saham-saham tersebut tertekan dan menarik IHSG turun karena bobotnya besar dalam indeks. Sebaliknya, ketika asing kembali membeli, IHSG bisa pulih cepat. Karena itu, banyak pelaku pasar memantau data beli dan jual bersih asing setiap hari sebagai indikator sentimen. Pada 30 Oktober, asing justru membeli saham GOTO, BUMI, dan MDKA, menunjukkan adanya rotasi ke sektor tertentu meski secara total masih jual bersih.

Bagaimana Investor Menyikapinya?

Volatilitas tinggi menuntut disiplin. Investor jangka panjang dapat tetap berinvestasi bertahap dengan dana yang memang untuk jangka panjang, sementara trader perlu membatasi ukuran posisi. Hindari membeli dengan dana pinjaman, karena volatilitas tinggi bisa memicu kerugian yang lebih besar dari modal sendiri. Catat juga alasan setiap transaksi agar keputusan tetap rasional, dan tinjau ulang portofolio setiap bulan untuk memastikan porsi saham masih sesuai profil risiko. Saham yang turun tajam belum tentu murah; evaluasi laba, utang, dan arus kas sebelum membeli, seperti dijelaskan di value trap saham.

Data perdagangan resmi tersedia di Bursa Efek Indonesia, dan informasi pengawasan pasar modal di OJK.

Artikel ini bersifat informasi, bukan rekomendasi investasi atau transaksi. Harga aset dapat berubah cepat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa penurunan IHSG dalam sepekan hingga 30 Oktober?

Sekitar 7,03%, berbalik dari kenaikan 4,9% pada pekan sebelumnya.

Berapa penutupan IHSG pada 30 Oktober 2026?

5.057,05, turun 0,80% atau 41,01 poin.

Berapa penurunan IHSG sepanjang Oktober 2026?

Sekitar 16,70% dari 6.071,14 di akhir September.

Sektor apa yang paling melemah pada 30 Oktober?

Transportasi dan logistik turun 3,13%, disusul bahan baku 2,84%.

Saham apa yang paling banyak dijual asing pada 30 Oktober?

BBRI dengan jual bersih sekitar Rp206,5 miliar, disusul TLKM dan AMMN.

Apa agenda penting bagi IHSG pekan ini?

Pemilu sela AS, keputusan RBA dan Bank of England, data tenaga kerja AS, serta laporan keuangan emiten.

Tim Redaksi TradeSphere FX

Tim Redaksi TradeSphere FX menyajikan berita keuangan, investasi, dan pasar yang akurat dan mudah dipahami.