BPS mengumumkan ekonomi Indonesia kuartal III 2026 tumbuh 5,47% secara tahunan dan 1,59% secara kuartalan, jauh di atas konsensus 5,20% dari 15 lembaga yang disurvei CNBC Indonesia. Pertumbuhan ini lebih cepat dari kuartal II yang 5,29%, tetapi masih di bawah kuartal I yang 5,61%.
PDB atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp6.741 triliun, sementara atas dasar harga konstan Rp3.633,2 triliun.

Siapa yang Mengumumkan?
Angka disampaikan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, pada 5 November 2026. Rilis PDB kuartalan menjadi salah satu data paling ditunggu karena memengaruhi pandangan terhadap kebijakan fiskal dan moneter.
Apa Penopang Pertumbuhan?

Menurut para ekonom, ekspor dan aktivitas manufaktur menjadi penopang utama. PMI manufaktur Oktober naik ke 54, tertinggi sejak Maret 2024, dan ekspor mencatat rekor. Surplus perdagangan September tercatat US$3,36 miliar. Data perdagangan dibahas di neraca perdagangan September 2026.
| Periode | Pertumbuhan |
|---|---|
| Kuartal I 2026 | 5,61% |
| Kuartal II 2026 | 5,29% |
| Kuartal III 2026 | 5,47% |
| Konsensus kuartal III | 5,20% |
Apa yang Melambat?
Para ekonom menilai konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah melambat dibanding kuartal II. Konsumsi rumah tangga merupakan komponen terbesar PDB, sehingga perlambatannya perlu diwaspadai menjelang akhir tahun.
Bagaimana Perkiraan Ekonom?
Josua Pardede dari Bank Permata memproyeksikan 5,23% dan 5,37% untuk sembilan bulan pertama 2026. David Sumual dari BCA memperkirakan 5,15–5,20%. Hasil aktual yang jauh lebih tinggi menunjukkan ekonomi lebih tangguh dari dugaan.
Bagaimana Reaksi Pasar?
Rupiah dibuka menguat 87 poin ke Rp18.081 per dolar pada 5 November, meski penguatan juga didorong dolar global yang melemah. Data yang kuat bisa mendukung sentimen terhadap saham domestik.
Apa Artinya bagi Bank Indonesia?
Ekonomi yang tumbuh kuat memberi BI ruang untuk fokus menjaga stabilitas rupiah. Dengan peluang kenaikan Fed Desember sekitar 81%, BI kemungkinan tetap berhati-hati menurunkan suku bunga. RDG berikutnya dijadwalkan 17–18 November.
Apa Tantangan ke Depan?
KSSK sebelumnya mencatat likuiditas domestik mengetat dan arus keluar dana dari pasar saham meningkat. Harga energi yang sempat tinggi, rupiah di kisaran Rp18.000-an, dan ketidakpastian global menjadi tantangan bagi pertumbuhan kuartal IV.
Bagaimana Dampak ke Masyarakat?
Pertumbuhan yang lebih cepat biasanya mendukung lapangan kerja dan pendapatan, tetapi dampaknya bertahap. Penetapan UMP 2027 pada akhir November juga mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Bagaimana Perbandingan dengan AS?
Ekonomi AS tumbuh 3,4% pada kuartal III. Pertumbuhan Indonesia yang lebih tinggi menunjukkan ekonomi domestik masih tumbuh lebih cepat dibanding negara maju, meski menghadapi tekanan kurs dan suku bunga global. Data AS dibahas di PDB AS kuartal III 2026 tumbuh 3,4%.
Bagaimana Inflasi?
Inflasi Oktober tercatat 3,23%, masih dalam sasaran BI. Kombinasi pertumbuhan 5,47% dan inflasi terkendali menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif seimbang. Pembahasannya ada di inflasi Oktober 2026 3,23%.
Bagaimana Proyeksi Setahun?
Josua Pardede dari Bank Permata memproyeksikan pertumbuhan 5,37% untuk sembilan bulan pertama 2026. Dengan angka kuartal III yang lebih tinggi dari perkiraan, pertumbuhan setahun penuh berpeluang mendekati kisaran tersebut, bergantung kinerja kuartal IV.
Bagaimana Dampak ke APBN?
Pertumbuhan ekonomi memengaruhi penerimaan pajak. Ekonomi yang tumbuh lebih cepat biasanya mendukung penerimaan, membantu pemerintah menghadapi beban subsidi energi yang tinggi.
Bagaimana Reaksi Investor Asing?
Data yang jauh di atas perkiraan bisa memperbaiki persepsi investor asing terhadap Indonesia, yang sebelumnya terbebani isu MSCI dan arus keluar dana dari pasar saham. Arus dana asing dalam beberapa hari ke depan menjadi indikator penting.
Bagaimana dengan Sektor Manufaktur?
PMI manufaktur Oktober yang naik ke 54 dan ekspor yang mencetak rekor menunjukkan sektor manufaktur sedang menguat. Jika berlanjut, sektor ini bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Bagaimana Konsumsi Akhir Tahun?
Kuartal IV biasanya didukung belanja akhir tahun, seperti Natal, Tahun Baru, dan liburan sekolah. Jika daya beli membaik, konsumsi rumah tangga bisa kembali menjadi penopang pertumbuhan.
Bagaimana PDB Nominal?
PDB atas dasar harga berlaku sekitar Rp6.741 triliun pada kuartal III. Angka nominal ini dipengaruhi inflasi dan dipakai untuk menghitung rasio seperti utang terhadap PDB dan penerimaan pajak terhadap PDB.
Bagaimana Pertumbuhan Kuartalan?
Pertumbuhan 1,59% secara kuartalan menunjukkan aktivitas ekonomi kuartal III meningkat dibanding kuartal II. Angka kuartalan dipengaruhi pola musiman, sehingga perbandingan tahunan lebih sering dipakai.
Bagaimana Pengaruh ke Pasar Obligasi?
Data pertumbuhan yang kuat bisa memengaruhi ekspektasi kebijakan BI dan yield SBN. Investor obligasi memperhatikan apakah data ini mengurangi peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Apa yang Perlu Dipantau?
- Rincian komponen PDB menurut pengeluaran.
- Data inflasi November.
- RDG Bank Indonesia pada 17–18 November.
- Penetapan UMP 2027.
Data resmi tersedia di Badan Pusat Statistik dan Kementerian Keuangan.
Artikel ini bersifat informasi, bukan rekomendasi investasi. Data dapat diperbarui sesuai rilis resmi lembaga terkait.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa PDB atas dasar harga konstan?
Sekitar Rp3.633,2 triliun pada kuartal III 2026.
Berapa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2026?
5,47% secara tahunan dan 1,59% secara kuartalan.
Berapa konsensus sebelum rilis?
5,20% dari 15 lembaga yang disurvei CNBC Indonesia.
Apa penopang pertumbuhan?
Ekspor dan aktivitas manufaktur, menurut para ekonom.
Apa yang melambat?
Konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah dibanding kuartal II.
Siapa yang mengumumkan data?
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud.


