Ahli Strategi Makro Senior Rabobank, Benjamin Picton, mencatat kontrak berjangka minyak bergerak lebih rendah setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara rencana serangan lanjutan ke Iran, membalikkan lonjakan harga minyak Brent pekan lalu yang sempat menembus di atas USD 100 per barel. Picton menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah, termasuk serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi serta ketidakpastian seputar Selat Hormuz, masih menimbulkan risiko besar terhadap keamanan energi global dan berpotensi kembali mengetatkan pasar minyak secara cepat.
Dari Ancaman “Serangan Besar-Besaran” ke Pelonggaran Tajam
Kontrak berjangka minyak ditawarkan lebih rendah pada perdagangan pagi ini, setelah Presiden Trump pada hari Jumat menolak untuk melanjutkan serangan ke Iran. Padahal, ancaman Trump soal kemungkinan “serangan besar-besaran” pada akhir pekan lalu sempat membuat minyak mentah Brent melonjak di atas USD 100 per barel, imbal hasil obligasi bergerak lebih tinggi, dan pasar saham berada di bawah tekanan.
Kondisi tersebut kini berbalik menjadi pelonggaran besar-besaran, dengan harga Brent turun ke bawah USD 92 per barel, kontrak berjangka saham bergerak lebih tinggi, serta imbal hasil obligasi pemerintah yang secara keseluruhan lebih rendah.
Ketegangan Arab SaudiβHouthi Mengancam Meluas
Untuk menggambarkan risiko yang masih membayangi, Picton merujuk pada laporan Wall Street Journal akhir pekan lalu mengenai aksi saling balas yang kian memanas antara Arab Saudi dan Houthi, yang mengancam berkembang menjadi konflik terbuka berskala penuh. Serangan Houthi terhadap infrastruktur Saudi Aramco di pelabuhan Yanbu, yang merupakan katup pelepas jalur Laut Merah untuk ekspor minyak Arab Saudi, terjadi pada akhir pekan, menyusul deklarasi sepekan sebelumnya bahwa pelabuhan-pelabuhan Laut Merah milik Arab Saudi akan diblokade. Ancaman ini dinilai berpotensi membuat kawasan Asia, yang bergantung pada pasokan energi dari luar, kehabisan aliran minyak mentah yang vital.
Baca juga, Saham PGEO Menguat 2,54%, Ditopang Kerja Sama dengan Bank Mizuho Indonesia
Peluang Rantai Pasok yang Lebih Tangguh di Masa Depan
Meredanya ketegangan antara negara-negara Teluk dan Israel membuka prospek rantai pasokan energi yang lebih tangguh ke depan, ditandai dengan aliran minyak yang bergerak ke arah Barat, bukan ke Timur, serta berkurangnya pengaruh Iran terhadap perekonomian global. Meski demikian, Picton mengingatkan bahwa skenario masa depan tersebut masih bergantung pada banyak prasyarat, dan belum menyelesaikan persoalan jangka pendek yang tengah dihadapi pasar minyak saat ini.
