The Fed menahan suku bunga di 3,75%–4,00% pada 28 Oktober 2026, tetapi dua anggota memilih menaikkan dan pasar memperkirakan peluang kenaikan pada 9 Desember sekitar 85%. Artinya, suku bunga AS kemungkinan tetap tinggi lebih lama. Bagi investor Indonesia, kondisi ini cenderung menekan saham dan obligasi melalui arus dana asing dan rupiah, menahan kenaikan emas, serta membuat deposito relatif menarik.

Apa yang Diputuskan The Fed?
| Poin | Keterangan |
|---|---|
| Suku bunga | Ditahan di 3,75%–4,00% |
| Voting | 10–2; Lisa Cook dan Beth Hammack memilih naik 25 bps |
| Pernyataan | Aktivitas ekonomi disebut “kuat”, naik dari “solid” |
| Inflasi | Disebut masih tinggi |
| Jadwal | Jumlah rapat kebijakan dikurangi mulai 2027 |
Rapat dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh. Sejumlah analis, termasuk dari Northlight Asset Management, memperkirakan kenaikan pada rapat Desember.
Bagaimana Reaksi Pasar AS?
- S&P 500 naik 0,28% ke 7.743,98 dan Nasdaq naik 0,27%.
- Yield Treasury 10 tahun naik ke sekitar 5,04%, tenor 30 tahun ke 5,36%.
- Indeks dolar (DXY) turun tipis ke sekitar 102,16.
- Emas berjangka turun sekitar 0,5% ke kisaran US$4.050.
Yield jangka panjang naik sementara yield jangka pendek relatif stabil, sehingga kurva yield makin curam.
Dampak ke Setiap Kelas Aset

Saham Indonesia
Suku bunga AS tinggi membuat dana global cenderung selektif terhadap pasar berkembang. IHSG yang sudah turun sekitar 39% sejak awal tahun tetap sensitif terhadap arus asing, meski pada 28 Oktober asing mencatat beli bersih Rp664,24 miliar. Strategi masuk bertahap dibahas di dollar-cost averaging saat pasar turun.
Obligasi dan SBN
Yield Treasury yang naik mendorong yield SBN tetap tinggi. Pemegang obligasi tenor panjang bisa mencatat penurunan harga, tetapi investor baru berkesempatan mengunci imbal hasil tinggi. Penjelasannya ada di obligasi negara saat yield 7,5%.
Deposito dan Pasar Uang
Suku bunga global tinggi menjaga bunga simpanan tetap menarik. Pastikan bunga tidak melebihi tingkat penjaminan LPS 3,75%.
Emas
Emas tidak memberi bunga, sehingga ekspektasi suku bunga tinggi menahan kenaikannya. Namun, permintaan dari bank sentral dan ETF tetap menjadi penopang.
Kripto
Aset berisiko seperti bitcoin cenderung volatil saat suku bunga tinggi. Bitcoin bergerak di sekitar US$81 ribu pada 28 Oktober, jauh di bawah posisi setahun sebelumnya.
Mengapa Kenaikan Suku Bunga AS Berpengaruh ke Indonesia?
Ada tiga jalur utama:
- Arus modal. Imbal hasil aset dolar yang tinggi menarik dana dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.
- Nilai tukar. Arus keluar dana menekan rupiah. Pada 28 Oktober 2026, rupiah ditutup di sekitar Rp18.175–18.184 per dolar AS, yang menurut sebagian data merupakan penutupan terlemah sepanjang sejarah.
- Suku bunga domestik. Untuk menjaga rupiah, yield SBN dan suku bunga di dalam negeri cenderung ikut tinggi.
Ketiganya saling terkait. Ketika rupiah melemah, investor asing menghitung imbal hasil investasi di Indonesia dalam dolar menjadi lebih kecil, sehingga dorongan untuk menjual bisa bertambah.
Bagaimana Jika The Fed Ternyata Tidak Menaikkan Suku Bunga?
Skenario sebaliknya juga perlu dipertimbangkan. Jika data inflasi dan tenaga kerja AS melemah, The Fed bisa menunda kenaikan. Dampaknya bisa berupa:
| Skenario Desember | Dampak umum |
|---|---|
| Naik 25 bps | Dolar kuat, tekanan ke rupiah dan saham berlanjut |
| Tahan dengan nada netral | Pemulihan bertahap aset berisiko |
| Sinyal pelonggaran | Rupiah, saham, obligasi, dan emas berpeluang menguat |
Karena hasilnya belum pasti, menyusun portofolio yang tahan terhadap beberapa skenario lebih bijak daripada bertaruh pada satu kemungkinan.
Strategi yang Bisa Dipertimbangkan
- Periksa alokasi aset sesuai profil risiko. Panduannya ada di diversifikasi portofolio.
- Siapkan likuiditas di deposito atau reksa dana pasar uang untuk peluang di masa depan.
- Masuk bertahap ke saham dan obligasi, bukan sekaligus.
- Hindari utang berbunga mengambang yang besar.
- Fokus jangka panjang: keputusan satu rapat jarang menentukan hasil investasi bertahun-tahun.
Apa Arti Pengurangan Jumlah Rapat The Fed?
Dalam keputusan 28 Oktober, The Fed juga mengumumkan akan mengurangi jumlah rapat kebijakan mulai 2027. Rincian jadwal barunya belum diumumkan secara lengkap. Bagi investor, perubahan ini berarti:
- Setiap rapat menjadi lebih penting, karena kesempatan mengubah kebijakan lebih jarang.
- Pasar akan lebih bergantung pada data dan pidato pejabat di antara rapat.
- Volatilitas di sekitar tanggal rapat bisa lebih besar.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga dikenal ingin mengurangi panduan ke depan (forward guidance), sehingga pasar perlu membaca data ekonomi secara lebih mandiri.
Apa yang Perlu Dipantau Selanjutnya?
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 29 Oktober | Data PDB kuartal III dan inflasi PCE AS |
| 6 November | Data tenaga kerja AS Oktober |
| 10 November | Inflasi CPI AS Oktober |
| 9 Desember | Keputusan FOMC berikutnya |
Pernyataan resmi The Fed tersedia di federalreserve.gov, dan peluang suku bunga dapat dipantau di CME FedWatch.
Harga aset dapat berubah cepat. Artikel ini bukan rekomendasi beli atau jual instrumen apa pun. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa keputusan The Fed pada 28 Oktober 2026?
The Fed menahan suku bunga di 3,75%–4,00% dengan voting 10–2. Dua anggota, Lisa Cook dan Beth Hammack, memilih kenaikan 25 basis poin.
Berapa peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Desember?
Berdasarkan harga pasar setelah rapat, peluang kenaikan pada 9 Desember 2026 sekitar 85%.
Bagaimana dampak suku bunga AS tinggi ke investor Indonesia?
Umumnya menekan saham dan obligasi melalui arus dana asing dan rupiah, menahan kenaikan emas, serta membuat deposito relatif menarik.
Apakah sebaiknya menjual investasi setelah keputusan The Fed?
Tidak harus. Sesuaikan dengan tujuan dan profil risiko, siapkan likuiditas, dan pertimbangkan masuk bertahap daripada mengambil keputusan besar berdasarkan satu rapat.


